Ambisi Pusat Data OpenAI Butuh Rp 9.025 Triliun, Nvidia Siapkan Dukungan Besar

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 05:14 WIB
CEO Nvidia Jensen Huang memperkuat kerja sama dengan OpenAI dalam perlombaan membangun infrastruktur AI global (Al Jazeera)
CEO Nvidia Jensen Huang memperkuat kerja sama dengan OpenAI dalam perlombaan membangun infrastruktur AI global (Al Jazeera)

 

LombokPost-Perlombaan membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Nvidia dikabarkan menyiapkan dukungan pembiayaan senilai USD 250 miliar atau sekitar Rp 4.512 triliun untuk menopang ambisi infrastruktur OpenAI.

Nilai rupiah itu menggunakan kurs Rp 18.050 per dolar AS. Rencana pembiayaan menunjukkan besarnya kebutuhan modal, energi, dan pusat data untuk mendukung pertumbuhan AI generatif global.

Dukungan itu berkaitan dengan pembangunan pusat data raksasa berkapasitas 10 gigawatt di Piketon, Ohio, Amerika Serikat. SB Energy, anak usaha SoftBank, mengembangkan proyek itu.

Pembangunan fasilitas diperkirakan menelan biaya lebih dari USD 500 miliar atau sekitar Rp 9.025 triliun. Nilai itu mencakup kebutuhan cip untuk mengoperasikan pusat data.

Baca Juga: Jepang Gandeng Nvidia, Targetkan 10 Juta Robot AI di 2040

Tahap awal pusat data ditargetkan menghasilkan daya hingga 800 megawatt pada 2028. Kapasitas itu cukup untuk memasok listrik sekitar 640.000 rumah.

Jaminan Nvidia senilai USD 250 miliar atau sekitar Rp 4.512 triliun akan membantu OpenAI menyewa fasilitas itu. Namun, dukungan itu belum mencakup pembelian cip.

Kebutuhan cip diperkirakan mencapai USD 350 miliar atau sekitar Rp 6.318 triliun. Nvidia di bawah kepemimpinan Jensen Huang juga membahas kemungkinan pendanaan untuk kebutuhan cip itu.

Proyek di Ohio menandai perubahan strategi OpenAI. Selama ini, perusahaan lebih banyak menyewa kapasitas komputasi dari perusahaan teknologi besar, seperti Microsoft, Amazon, dan Oracle.

Apabila terealisasi, fasilitas itu akan menjadi bagian dari kemitraan publik-swasta. Departemen Energi AS telah mengizinkan SoftBank membangun salah satu pusat data AI terbesar di dunia pada lahan sewaan pemerintah.

Ohio saat ini memiliki 166 pusat data yang telah beroperasi. Sebanyak 57 fasilitas lain masih dalam tahap perencanaan.

Jumlah itu menempatkan Ohio sebagai negara bagian dengan pusat data terbanyak keempat di Amerika Serikat. Posisi tiga besar ditempati Virginia, Texas, dan California.

Namun, besarnya investasi memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan model bisnis industri AI. Sejumlah analis mempertanyakan kemampuan OpenAI membiayai ekspansi infrastruktur saat perusahaan belum menghasilkan keuntungan.

Baca Juga: ASUS ExpertBook Ultra Resmi Meluncur! Laptop AI Flagship 0,99 Kg yang Klaim 'Libas' Performa NVIDIA RTX 4050, Ini Rahasianya!

Sementara itu, mitra penyedia pusat data, cip, dan daya komputasi disebut memiliki utang hingga USD 96 miliar atau sekitar Rp 1.733 triliun.

Wakil Dekan Boston College Aleksandar Tomic menilai model pendanaan semacam itu dapat mengaburkan batas antara kebutuhan bisnis dan dukungan finansial antarperusahaan.

“Yang terjadi saat ini dengan OpenAI dan perusahaan lainnya adalah mereka membutuhkan komputasi, tetapi tampaknya mereka belum memiliki pendapatan atau kemampuan finansial untuk melakukan belanja modal yang diperlukan guna mendukung aktivitas mereka,” kata Tomic.

Tomic juga melihat kemiripan dengan pola pendanaan pada masa gelembung dot-com 1999.

“Perusahaan-perusahaan akan melakukan kesepakatan pendanaan sirkular, ketika mereka pada dasarnya membeli satu sama lain dan membuatnya terlihat seolah-olah ada permintaan yang lebih besar terhadap layanan mereka daripada yang sebenarnya terjadi. Pada titik tertentu, uang akan habis,” ujarnya.

Pendiri Founder’s ETF Michael Monaghan memiliki pandangan berbeda. Ia menilai hubungan investasi antarperusahaan teknologi tidak selalu menunjukkan pembiayaan berputar yang bermasalah.

“Itu tidak selalu merupakan pendanaan sirkular. Itu hanya aktivitas ekonomi biasa,” kata Monaghan.

Menurutnya, transaksi semacam itu masih dapat menjadi mekanisme bisnis yang wajar. Syaratnya, transaksi didukung permintaan pasar yang nyata.

Selain menghadapi persoalan finansial, ekspansi pusat data AI juga terbentur hambatan politik di Amerika Serikat. New York menjadi negara bagian pertama yang menghentikan sementara pembangunan pusat data baru selama satu tahun.

Sejumlah negara bagian lain turut mengusulkan kebijakan serupa. Kekhawatiran terutama berkaitan dengan konsumsi energi dan dampak lingkungan.

Di Texas, Gubernur Greg Abbott bahkan menyerukan pembatasan pembangunan pusat data di wilayah pedesaan.

Proyek Nvidia dan OpenAI akhirnya tidak hanya menjadi pertaruhan teknologi. Proyek itu juga menggambarkan tantangan utama industri AI global dalam membangun kapasitas komputasi raksasa tanpa memicu tekanan finansial dan politik.

Persaingan menguasai infrastruktur AI kini bergantung pada kemampuan perusahaan menyediakan modal, energi, serta dukungan publik.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : jawapos.com
Nvidia pusat data AI infrastruktur AI openai Investasi Teknologi