Tudor, yang ditunjuk menahkodai Spurs hingga akhir musim pasca-pemecatan Thomas Frank, berkomitmen untuk mengembalikan identitas menyerang klub.
Tugas Tudor tergolong berat mengingat posisi Tottenham yang saat ini tertahan di peringkat ke-16 klasemen sementara Premier League.
Dengan catatan hanya meraih tujuh kemenangan dari 26 pertandingan, klub asal London Utara tersebut kini berada dalam ancaman zona degradasi.
Ujian pertama pria berusia 47 tahun ini adalah menghadapi rival sekota, Arsenal. Dalam sesi wawancara, pelatih asal Kroasia tersebut menekankan pentingnya keberanian dan kecerdasan taktik dalam mengejar kemenangan di laga derbi.
“Minggu yang besar. Derbi ini adalah pertandingan yang fantastis untuk dimainkan. Kami ingin memainkan pertandingan ini dengan cara yang disukai penggemar kami, memberikan semua yang kami miliki, dengan cara yang benar, berani… tetapi juga cerdas dan pintar untuk mencapai apa yang kami inginkan, yaitu kemenangan," ujar Tudor.
Mantan pelatih Lazio dan Juventus tersebut menegaskan bahwa filosofi utamanya adalah mencetak gol tanpa mengabaikan stabilitas di lini belakang.
“Saya suka bersikap positif, saya suka memainkan sepak bola menyerang. Itu adalah tujuan utama saya. Saya suka mencetak gol, tetapi tentu saja Anda perlu memberikan organisasi pada pertahanan," lanjutnya.
Baca Juga: AC Milan di Antara 3 Pilihan, Bek Lazio, Tottenham Hotspur, atau Bayern Munich
Tudor menolak pandangan skeptis yang menyebut Spurs akan bermain aman demi mengamankan satu poin. Baginya, target dalam setiap pertandingan adalah kemenangan mutlak melalui skema permainan yang terorganisasi.
“Mengenai menang atau seri, yang sebenarnya adalah saya tidak pernah melihat seorang pelatih yang mengatakan bahwa dia bisa bermain untuk hasil seri. Itu tidak mungkin. Sepak bola menyerang, ya, tetapi cerdas. Itulah kuncinya.”
Igor Tudor yang sebelumnya meraih kesuksesan di Liga Italia diharapkan mampu membawa dampak instan bagi Tottenham. Meski demikian, tantangan besar menantinya lantaran badai cedera serta penurunan kualitas performa skuad yang menjadi kendala utama dalam upaya menjauh dari zona merah musim ini.
Editor : Redaksi Lombok Post