LombokPost - Pasca demonstrasi mereda, Presiden Prabowo Subianto memutuskan berangkat ke Tiongkok, pada Selasa (2/9) malam.
Prabowo terbang ke Negeri Tirai Bambu itu karena diundang Presiden Xi Jinping melihat parade militer.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, Presiden berangkat karena adanya permohonan dari Pemerintah Tiongkok untuk menghadiri parade militer.
”Ada permohonan sangat besar dari Pemerintah Tingkok agar Bapak Presiden Prabowo menghadiri. Paling tidak di satu hari di acara peringatan 80 tahun dan di acara parade militer,” jelasnya.
Parade militer itu dihelat kemarin. Lewat kegiatan tersebut, Tiongkok ingin menunjukkan bahwa mereka tetap menjaga tatanan internasional di tengah ketidakpastian kondisi geopilitik.
Menurut Prasetyo, kunjungan Prabowo ke Tiongkok tidak berjalan lama. Presiden dijadwalkan kembali ke Indonesia Rabu (3/9) malam. ”Demi menjaga hubungan baik dengan Pemerintah Tiongkok,” ucapnya. Kunjungan itu diharapkan dapat membawa kebaikan bagi hubungan kedua negara.
Pernyataan Sikap Unair
Menyikapi gejolak sosial yang memanas dalam beberapa hari terakhir, Universitas Airlangga (Unair) menyampaikan tujuh poin pernyataan sikap di Kampus C Rabu (3/9).
Rektor Unair Prof Muhammad Madyan mendorong pemerintah memastikan ketertiban, keamanan, sekaligus menegakkan demokrasi. Pihaknya meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap berbagai insiden kekerasan secara transparan dan adil. Terutama, kasus yang menelan korban jiwa.
”Negara harus hadir memberikan rasa aman sekaligus mengupayakan pemulihan kondisi sosial, politik, dan ekonomi,” ucap Madyan.
Unair juga meminta semua pihak berwenang mendengarkan aspirasi masyarakat dan mengambil langkah strategis agar tercipta situasi kondusif. Sseluruh lapisan masyarakat diajak menjaga ruang demokrasi dengan tetap menyuarakan kebenaran tanpa kekerasan dan perusakan fasilitas umum.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai terhadap potensi provokasi pihak tidak bertanggungjawab yang dapat memperkeruh keadaan. ”Kami mengajak elemen masyarakat untuk mengedepankan aksi damai, dialog, dan musyawarah,” terangnya.
Madyan juga mengingatkan sivitas akademika, baik mahasiswa, tenaga pendidik, dosen, hingga alumni, untuk terus menunjukkan kepedulian terhadap kondisi bangsa secara konstruktif. ”Mari bersama-sama menjaga diri, jaga sesama, dan jaga Indonesia,” ucapnya.
Seruan IKA UB
Penyikapan akan kondisi sosial politik juga disampaikan Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB). Dalam keterangan tertulis yang didapatkan, ada delapan poin seruan yang disampaikan.
Di antaranya, IKA UB berduka cita atas jatuhnya korban jiwa dan korban luka. IKA UB mengutuk setiap tindakan anarkistis, penjarahan, dan kekerasan yang mencederai nilai luhur Pancasila yang menjadi pegangan hidup bangsa Indonesia.
Selain itu, IKA UB meminta seluruh pihak untuk tidak melakukan provokasi dan adu domba yang berakibat buruk pada persatuan dan kesatuan bangsa. Kemudian, IKA UB mendesak seluruh aparatur keamanan untuk bertindak profesional, terukur dan humanis dalam menjalankan fungsi. (lyn/dho/aph/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam