Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di sebuah konferensi keamanan di Teheran seperti dilansir dari The Guardian.
Araghchi menegaskan bahwa hanya diplomasi yang mampu menyelesaikan kebuntuan nuklir. Dia mengungkapkan adanya permintaan baru dari sejumlah perantara untuk memulai kembali negosiasi dengan AS.
“Bukan Iran yang melarikan diri dari diplomasi. Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang selalu berusaha memaksakan kehendak mereka,” tuturnya.
Tidak Lemah, Tidak Disembunyikan
Araghchi pun menegaskan, Iran tidak akan bernegosiasi dari posisi yang lemah. ”Iran memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk memperkaya uranium di dalam negeri dan hak itu tidak akan pernah dilepaskan,” katanya seperti dikutip dari Al Arabiya.
Araghchi juga menyebut, Iran tidak memiliki situs nuklir yang tidak dideklarasikan. Namun, dia mengakui Teheran belum dapat mengizinkan inspektorat nuklir PBB untuk mengunjungi situs nuklir yang dibom karena alasan keamanan.
Lebih Kuat setelah Diserang
Lima putaran perundingan nuklir terakhir berakhir tiba-tiba pada 12 Juni. Saat itu, Israel dengan dukungan AS menggempur sejumlah situs nuklir Iran dalam perang 12 hari. Trump kemudian mengklaim situs-situs tersebut telah dihancurkan. Setelahnya, negara-negara Eropa mengaktifkan kembali sanksi PBB. Namun Teheran bersikeras sanksi itu tidak berdampak besar.
Araghchi malah mengklaim bahwa Iran semakin kuat dari sisi militer dan psikologis setelah serangan AS. “Semua kemampuan kami telah dipulihkan,” tandasnya.
Belum Terima Tawaran Seimbang
Presiden Amerika Donald Trump pekan lalu mengaku mendapat pesan bahwa Iran ingin membuka kembali negosiasi. Namun, pejabat Iran mengatakan mereka belum menerima tawaran yang seimbang dari Washington. ”Mereka (AS) seperti menjadikan perundingan sebagai pertunjukan semata,” sindir Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh.
”Bukan Iran yang melarikan diri dari diplomasi. Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang selalu berusaha memaksakan kehendak mereka.” Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (lyn/dns/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam