LombokPost – Di tengah dentuman rudal yang menghiasi langit Timur Tengah, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akhirnya memecah kesunyian.
Melalui pernyataan perdana yang diunggah di platform media sosial X (dahulu Twitter) Mojtaba_Khamenei @MujtabaKhamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei ini mengirimkan pesan emosional kepada rakyatnya dan dunia internasional.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa saat setelah rentetan rudal balistik Iran dilaporkan menghujani wilayah selatan Tel Aviv, menandai babak baru kepemimpinannya yang militan.
Salut untuk Rakyat yang Bertahan
Dalam pesan singkat namun sarat makna tersebut, Mojtaba Khamenei membuka dengan salam keagamaan dan memberikan apresiasi tinggi bagi keteguhan rakyat Iran yang terus digempur sanksi dan agresi militer.
"Atas nama Allah, saya memberi hormat kepada rakyat Iran yang pemberani, yang tetap kuat di masa-masa sulit," tulis Mojtaba melalui akun @MujtabaKhamenei.
Pesan ini dianggap sebagai upaya konsolidasi internal untuk membakar semangat nasionalisme warga Iran yang tengah berduka sekaligus terancam oleh eskalasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Meneruskan Jejak Sang Ayah
Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa di bawah komandonya, Iran tidak akan mengubah haluan politik maupun ideologinya.
Ia bersumpah untuk setia pada garis perjuangan yang telah diletakkan oleh para pendahulunya.
"Kami akan melanjutkan jalan para martir kami dan berjuang demi kehormatan, kebebasan, dan martabat," tegasnya.
Penggunaan kata "Martir" dalam pernyataan tersebut diyakini merujuk langsung pada mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara AS-Israel akhir Februari lalu.
Ini menjadi sinyal kuat bahwa misi utama Mojtaba saat ini adalah menjaga "kehormatan" bangsa melalui perlawanan fisik yang lebih nyata.
Dunia Menanti Langkah Berikutnya
Pernyataan "kebebasan dan martabat" yang diusung Mojtaba Khamenei dipandang sebagai penolakan total terhadap segala bentuk tekanan diplomatik dari pemerintahan Donald Trump.
Dengan dukungan penuh dari Garda Revolusi (IRGC), pesan ini menjadi lonceng peringatan bagi stabilitas global.
Mojtaba Khamenei ingin menunjukkan bahwa meski Iran sedang berduka, mesin perang dan semangat perlawanan mereka justru sedang berada di puncak tertinggi.
Kini, pertanyaannya bukan lagi kapan perang akan dimulai, melainkan seberapa jauh Mojtaba akan melangkah untuk membalas "hutang darah" atas kematian ayahnya.
Dunia kini benar-benar berada di titik nadir keamanan internasional.
Editor : Kimda Farida