Ia adalah Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang kini naik takhta di saat negaranya berada di ambang kehancuran perang.
Penunjukan Mojtaba bukanlah proses biasa. Dikutip dari laporan BBC News Indonesia dan Al Jazeera, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama senior tetap melaksanakan pemungutan suara meski kantor sekretariat mereka baru saja luluh lantak diterjang bom yang menewaskan sejumlah staf.
Dalam situasi mencekam tersebut, Mojtaba terpilih melalui "suara bulat" untuk menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Mojtaba bukanlah orang baru dalam lingkaran kekuasaan, namun ia dikenal sebagai sosok yang sangat misterius.
Selama puluhan tahun, pria berusia 56 tahun ini memilih bergerak di bawah radar, tanpa pernah menduduki jabatan publik, berpidato, atau memberikan wawancara.
Begitu tertutupnya sosok ini, hingga banyak warga Iran yang bahkan belum pernah mendengar suaranya secara langsung.
Namun, di balik jubah ulamanya, Mojtaba dijuluki sebagai "kekuatan di balik takhta" atau "penjaga gerbang" bagi ayahnya.
Ia disebut-sebut memiliki pengaruh luar biasa terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan intelijen Iran.
Kini, setelah kehilangan ayah, ibu, istri, dan salah satu saudara perempuannya dalam serangan mematikan yang sama, Mojtaba diyakini akan membawa garis kebijakan yang jauh lebih keras dan tanpa kompromi terhadap Barat.
"Seorang pria yang kehilangan seluruh keluarganya akibat serangan udara AS-Israel kecil kemungkinan akan tunduk pada tekanan," ungkap sebuah laporan yang menyoroti potensi eskalasi konflik di masa depan.
Meskipun penunjukannya disambut pekikan "Allahu Akbar" oleh stasiun televisi nasional, tantangan besar menanti Mojtaba.
Selain harus menghadapi ancaman pembunuhan dari Israel yang telah menetapkannya sebagai "sasaran utama untuk dieliminasi", ia juga harus membuktikan legitimasinya sebagai ulama senior setelah secara mendadak dipromosikan dengan gelar "Ayatollah" demi memenuhi syarat kepemimpinan.
Kini, mata dunia tertuju pada Teheran. Apakah Mojtaba akan menjadi penyelamat Republik Islam, atau justru kepemimpinannya akan memicu gelombang perlawanan baru dari dalam negeri yang menolak sistem kepemimpinan turun-temurun?
.