Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sosok Ali Larijani: Intelektual, Arsitek Keamanan, dan "Pemegang Kendali" Iran di Masa Krisis

Nurul Hidayati • Rabu, 18 Maret 2026 | 11:02 WIB

Tewasnya Ali Larijani picu duka dan ancaman balasan dari Iran.
Tewasnya Ali Larijani picu duka dan ancaman balasan dari Iran.

LombokPost - Ali Ardashir Larijani (lahir 3 Juni 1958 di Najaf, Irak) merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam hierarki kekuasaan Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade.

Ia dikenal sebagai perpaduan langka antara seorang intelektual filsafat, teknokrat ulung, dan ahli strategi keamanan yang disegani baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Pada 17 Maret 2026, dunia dikejutkan dengan kabar tewasnya Larijani dalam sebuah serangan udara presisi oleh militer Israel di pinggiran Teheran. Kematiannya menandai hilangnya pilar utama stabilitas Iran di tengah perang regional yang sedang memanas.

  1. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Larijani berasal dari keluarga elit yang sering dijuluki sebagai "Kennedy-nya Iran". Keluarga Berpengaruh: Ayahnya adalah Ayatollah Mirza Hashem Amoli, seorang ulama Syiah terkemuka. Ia juga memiliki saudara-saudara yang memegang posisi kunci di peradilan dan politik Iran.

Pendidikan Intelektual: Berbeda dengan banyak politisi Iran yang berlatar belakang teologi murni, Larijani memiliki latar belakang akademis yang kuat di bidang sains dan filsafat Barat. Ia memegang gelar Doktor dalam Filsafat dari Universitas Teheran dengan disertasi yang mendalam mengenai pemikiran filsuf Jerman, Immanuel Kant.

  1. Rekam Jejak Karier yang Cemerlang

Perjalanan politik Larijani mencakup hampir seluruh aspek pemerintahan Iran.

Militer dan Penyiaran: Veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan sempat memimpin lembaga penyiaran negara IRIB (1994–2004) selama satu dekade.

Ketua Parlemen (Majlis): Menjabat sebagai Ketua Parlemen selama tiga periode berturut-turut (2008–2020), di mana ia berperan besar dalam membentuk kebijakan domestik.

Diplomasi Nuklir: Ia pernah menjadi negosiator utama nuklir Iran dalam perundingan dengan Barat, menunjukkan sisi pragmatisnya dalam berdiplomasi.

  1. Peran sebagai Pemimpin De Facto (2025–2026)

Pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel pada akhir Februari 2026, Larijani muncul sebagai sosok yang mengendalikan arah negara.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC): Ia ditunjuk kembali memimpin dewan ini pada Agustus 2025 dan menjadi arsitek utama respons militer Iran terhadap serangan gabungan AS-Israel.

Pusat Kendali Perang: Selama Maret 2026, ia diyakini menjalankan roda pemerintahan dan koordinasi militer dari tempat persembunyian bawah tanah sebelum akhirnya terdeteksi dan diserang.

  1. Karakter Politik: Pragmatis namun Teguh

Di mata pengamat Barat, Larijani dipandang sebagai tokoh konservatif pragmatis. Ia mampu menjalin hubungan strategis dengan Rusia dan China (termasuk mendorong kesepakatan 25 tahun dengan Beijing), namun tetap bersikap keras terhadap ancaman militer. Sesaat sebelum tewas, ia sempat mengeluarkan peringatan keras kepada Donald Trump bahwa Iran tidak akan gentar terhadap tekanan militer.

  1. Akhir Hayat dan Dampak bagi Iran

Kematian Ali Larijani dalam serangan pada 17 Maret 2026 dianggap sebagai pukulan telak bagi struktur pertahanan Iran. Hilangnya Larijani bersama putranya, Morteza, menciptakan kekosongan kepemimpinan strategis yang krusial di saat negara tersebut sedang menghadapi krisis eksistensial terbesar sejak revolusi 1979.

Bagi masyarakat Iran, ia akan dikenang sebagai "tokoh bayangan" yang mencoba menjaga kedaulatan negara melalui logika dan strategi di tengah kepungan konflik global.

Editor : Rury Anjas Andita
#Ali Larijani #keamanan #Timur Tengah #tewas #iran #konflik