Meski begitu, pihaknya tetap membuka layanan bagi UMKM yang ingin melakukan produksi. Termasuk bagi yang ingin berkonsultasi mengenai kemasan produk. Dari segi harga, memang jatuhnya lebih mahal karena mesin cetak yang masih terbatas. Sedangkan untuk cetak di luar, terkendala jumlah minimum order.
Dengan kelemahan dan tampungan keluhan dari para IKM inilah, pihaknya berencana mengajukan kebutuhan dan perbaikan alat untuk anggaran 2021 mendatang. ”Salah satunya adalah pencetak kaleng, untuk para pelaku usaha makanan,” jelasnya.
Sebelum Korona pihaknya bisa menerima 20-40 pesanan kemasan untuk IKM. Kini, keterbatasan peralatan membuat jumlah pesanan menyusut. Ditambah pandemi juga memberikan dampak besar bagi produktivitas para pelaku IKM. Tak heran, kedatangan IKM lebih banyak untuk melakukan konsultasi. Beberapa juga berinisiatif membuat rumah kemasan kecil-kecilan.
”Saya dukung. Ini bagus dan berpotensi menjadikan mereka lebih mandiri. Kami hadir sebagai pembina dan model percontohannya,” ujarnya.
”Jika dibutuhkan, kami akan berinisiatif mendatangkan ahli dengan meggelar pendidikan dan pelatihan. Tak hanya tentang kemasan, namun juga bagaimana strategi pemasarannya,” tambahnya.
Saat ini pihaknya bersama Dinas Perindustrian NTB sedang menyiapkan bantuan kemasan untuk 100 pelaku IKM. Khususnya bagi yang belum berpartisipasi dalam program JPS Gemilang. Kebutuhan kemasan yang bervariasi menjadi seni baru yang harus dipenuhi.
Nur Lailatul Qadaryah, salah satu pelaku usaha Pempek dan Dimsum Mataram mengatakan, selama ini menggunakan kemasan yang dijual di toko-toko plastik berbentuk mika. ”Mungkin nanti, jika produksi sudah banyak baru akan memanfaatkan Rumah Kemasan milik pemerintah,” ujar gadis asal Aikmel, Lombok Timur ini. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida