LombokPost-Gerai Resto Cabe Merah dari Kyati Group telah hadir di lantai dasar Lombok Epicentrum Mall (LEM). Resto ini mengusung konsep Indonesian dan Chinese Food untuk semua kalangan.
Resto Cabe Merah LEM merupakan gerai ke 71 dari delapan brand restoran milik Kyati Group. Untuk brand Resto Cabe Merah sendiri, outlet di LEM merupakan yang 18 di seluruh Indonesia. “Di Kyati Group itu ada delapan brand, di dalamnya termasuk Cabe Merah, ini outlet Cabe Merah ke 18 di Indonesia,” ujar Trainer Resto Cabe Merah, Arthur Bawendu.
Dikatakannya, menu makanan di Resto Cabe Merah sebanyak 70 persen merupakan makanan tradisional Indonesia. Seperti tongseng, soto, gado-gado, nasi bakar, dan banyak lagi.
Sedangkan 30 persennya merupakan makanan Chinese. Seperti nasi puyunghai, capcay, nasi ayam cah jamur, dan masih banyak lagi. Selain itu, di Cabe Merah juga terdapat menu paketan lunch box.
Gerai Resto Cabe Merah menjadi pilihan tepat untuk berbagai aktivitas bersama keluarga, kerabat, maupun rekan. Sebab di resto ini terdapat fasilitas mainan untuk anak-anak. “Untuk family arisan, ada mainan anak, jadi untuk segala umur,” tandasnya.
Area Manager Resto Cabe Merah Joko Andi Priyanto mengatakan, trafik kunjungan yang ramai menjadi alasan dibukanya gerai Cabe Merah LEM. Di momen grand opening ini, terdapat promo belanja Rp 150 ribu mendapatkan satu kerudung pashmina, dan berlaku kelipatan. “Promo ini mengalir saja, belum tahu sampai kapan,” ujarnya.
Selain itu, pada momen Ramadan ini, Resto Cabe Merah juga memberikan takjil gratis bagi semua konsumennya. Sedangkan untuk soal harga, dimulai dari Rp 15 ribuan hingga Rp 65 ribuan. Untuk paket lunch box dimulai dari harga 30 ribuan hingga Rp 40 ribuan. “Harganya masih cukup terjangkau berbagai kalangan,” katanya.
GM LEM Salim Abdad mengucapkan selamat atas dibukanya gerai Resto Cabe Merah. Hal tersebut menunjukkan brand nasional semakin melirik pangsa pasar Lombok. “Jadi tidak hanya Bali, Surabaya dan Jakarta tapi Lombok juga, dan seharusnya kita harus lebih siap menyediakan tempat untuk mereka,” ujarnya.
Dirinya berharap LEM semakin berkembang dan sukses memberikan warna lain selain pariwisata di NTB. Pembangunan infrastruktur juga akan mengikuti, baik jalan, penerangan dan lainnya. “Lampu yang terang dan dan tidak ada jalan rusak itu salah satu barometer mereka,” sambungnya.
Terkait jumlah gerai yang belum terisi, kata Salim, kini tersisa satu persen saja. Beberapa brand sedang dalam pembicaraan untuk mengisi sisa gerai tersebut. (fer/r6)
Editor : Akbar Sirinawa