Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Jagung Naik, Peternak Ayam Petelur Terdampak

Geumerie Ayu • Jumat, 15 Agustus 2025 | 20:16 WIB
Ayam-ayam petelur di salah satu kandang di di Batulayar menyantap pakan dari campuran jagung yang saat ini harganya sedang naik
Ayam-ayam petelur di salah satu kandang di di Batulayar menyantap pakan dari campuran jagung yang saat ini harganya sedang naik

LombokPost – Harga jagung belakangan ini mendekati Rp 6.500 per kilogram.

Hal itu memicu kegelisahan para peternak ayam petelur di NTB.

Sebab jagung sebagai bahan utama pakan ternak yang digunakan peternak.

Ketua Perhimpunan Peternak Unggas (Petarung) NTB Ervin Tanaka menegaskan, lonjakan harga jagung ini paling berdampak pada peternak unggas.

Terutama peternak kecil dengan populasi ayam antara 500-1.000 ekor.

“Mereka yang paling rentan. Kalau harga pakan tinggi terus, mereka tidak akan sanggup bertahan. Harga jagung sudah mulai tembus Rp 6.500 per kilogram di Lombok,” ujarnya.

Situasi ini semakin ironis karena NTB dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil jagung terbesar di Indonesia.

Namun, harga jagung di daerah tetap mengikuti fluktuasi harga nasional.

Sehingga tidak memberi keunggulan harga bagi peternak lokal.

Ervin mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan intervensi.

Khususnya melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Tujuannya, agar harga tidak terus melonjak hingga melewati titik kritis.

“Pemerintah harus segera turun tangan. Jangan tunggu harga sudah terlalu tinggi dan peternak banyak yang gulung tikar. Kita sudah pernah mengalami lonjakan harga jagung sampai Rp 9.000 per kilo tahun 2023. Banyak peternak bangkrut saat itu,” tuturnya.

Menurut Petarung NTB, harga jagung yang ideal dan adil untuk semua pihak berada di kisaran Rp5.000 per kilogram.

Melalui angka tersebut, petani tetap mendapat margin keuntungan yang layak.

Sementara peternak masih dapat menjaga kelangsungan usahanya.

Di sisi lain, harga telur ayam petelur di pasar Lombok saat ini masih stagnan.

Rata-rata harga di bawah Rp 50 ribu per peti.

Kondisi ini semakin memperparah beban yang harus ditanggung peternak.

“Harga telur tidak bisa kita naikkan begitu saja karena sudah ada aturannya. Kalau kita naikkan sepihak, malah bisa kena tegur. Sementara biaya produksi terus naik,” tambah Ervin.

MEROKET: Seorang pedagang telur yang sedang menjajakan telurnya di sebuah pasar Kota Mataram, beberapa waktu lalu. 
MEROKET: Seorang pedagang telur yang sedang menjajakan telurnya di sebuah pasar Kota Mataram, beberapa waktu lalu. 

Ervin berharap pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat lebih responsif dalam melindungi para peternak kecil dari gejolak harga bahan baku pakan ternak.

Kejadian ekstrem di tahun 2023 dinilainya menjadi pelajaran penting.

Stabilitas harga jagung bukan hanya urusan petani, tapi menyangkut hajat hidup pelaku peternakan rakyat.

“Kami tidak minta jagung dibikin murah sampai petani rugi, tapi harganya harus adil dan stabil. Kalau dibiarkan seperti ini terus, yang terancam bukan cuma peternak, tapi ketahanan pangan kita,” pungkasnya.

Wahyu, salah seorang pengusaha ayam petelur di Batulayar mengatakan, saat ini menjual telur ayam ukuran sedang dengan kisaran harga Rp 50 ribu pertray.

“Yang lebih besar Rp 55 ribu, paling besar Rp 60 ribu. Ada juga yang lelangan kecil-kecil Rp 45 ribu per tray,” jelasnya.

Harga itu sudah fix, sangat sukar diutak-atik.

Kenaikan pakan tidak serta merta bisa membuat pengusaha sepertinya menaikkan harga.

“Bisa ditinggal pembeli kita kalau naikin harga,” ucapnya. (fer/yuk/r6)

Baca Juga: 9 Drama Korea Baru yang Wajib Ditonton di Bulan Agustus 2025

Editor : Prihadi Zoldic
#Jagung #Terdampak #ayam petelur #peternak #harga naik