Bukan sembarang jahitan, mereka sedang mentransformasi tote bag polos menjadi produk kriya bernilai ekonomi lebih tinggi melalui teknik sulam pita.
Sebanyak 20 peserta mendapatkan pelatihan dari PLUT NTB. Mereka antusias menyimak arahan Yuni, instruktur kriya asal Kediri, Lombok Barat.
Yuni merupakan produsen tenun dan rajut yang memiliki ceruk pasar yang sangat menjanjikan di NTB.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan teknik sulam pita pada media tote bag.
Mulai dari membuat pola dasar hingga membentuk detail kelopak bunga mawar, bunga matahari, hingga daun yang tampak hidup.
“Ini masih pola dasar, tapi pengembangannya luas sekali. Ibu-ibu dan adik-adik peserta bebas berekspresi. Dari satu titik, bisa lahir bermacam-macam bentuk bunga sesuai kreativitas,” terang Yuni.
Dipilihnya tote bag bukan tanpa alasan. Selain fungsional sebagai tas belanja ramah lingkungan, produk ini merupakan media latihan yang paling mudah dipasarkan.
Yuni membeberkan, satu buah tote bag hasil sulaman pita dapat dibanderol Rp 125.000-175.000, tergantung pada tingkat kerumitan motifnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir produk-produk kreatif lokal yang mampu bersaing di pasar oleh-oleh khas NTB.
Sekaligus memperkuat ekonomi keluarga melalui kreativitas tangan-tangan terampil kaum perempuan.
Ada pemandangan menarik di tengah riuhnya peserta pelatihan keterampilan kriya tersebut.
Baca Juga: Jangan Panik, Lakukan Ini jika Saldo Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 2026 di KKS Anda Masih Kosong
Ternyata ada satu sosok yang tampak paling serius, yakni dr Oksi Cahya Wahyuni. Direktur Rumah Sakit Mandalika ini ikut membaur, bergulat dengan jarum dan pita.
“Biasanya saya pegang jarum suntik, sekarang harus pegang jarum jahit dan pita,” ujarnya.
Meski mengaku sempat tegang, Oksi melihat potensi besar di balik kerajinan ini. Menurutnya, industri kriya merupakan sektor yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan oleh perempuan di NTB.
Pelatihan seperti ini tak hanya mengisi waktu luang, tapi juga memberikan variasi keahlian yang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.
Oksi mengapresiasi hadirnya PLUT NTB sebagai lokasi pelatihan turut mendapat apresiasi. Tempat ini dinilai sukses menjadi oase bagi peningkatan keterampilan masyarakat.
Mulai dari bidang kuliner, kecantikan, hingga seni kriya seperti sulam pita.
“Industri kriya itu cukup menjanjikan. Skill seperti ini bagus untuk dikembangkan dan bisa jadi peluang usaha ke depan bagi perempuan-perempuan kita di NTB agar lebih produktif,” pungkas Oksi.
Editor : Jelo Sangaji