----------
CHARLIE Kurniawan, 42 tahun, salah seorang pemilik MM Billiards and Cafe Mataram menyambut dengan hangat kedatangan sekelompok remaja yang datang ke tempatnya. Apes, malam itu mereka telah kehabisan meja. Biasanya, pilihan bagi pengunjung yang seperti itu ada dua, pertama bersedia di taruh di daftar tunggu, kedua dipersilakan ke tempat biliar lainnya.
“Tapi namanya pelanggan sudah merasa nyaman, mereka kebanyakan memilih untuk di waiting list. Intinya bagaimana kita memberikan pelayanan. Dan memahami keinginan mereka,” kata Charlie saat didatangi Lombok Post di MM Billiards and Cafe, Rabu malam (30/4) lalu.
MM Billiard and Cafe merupakan satu dari puluhan tempat bermain biliar yang baru muncul di Kota Mataram. Tempat itu dilaunching pada November 2024 lalu. Posisinya terletak di Jalan Cilinaya, komplek Mataram Mall, Kota Mataram. Setiap hari, tempat yang memiliki 16 karyawan itu selalu penuh. Buka dari pukul 12.00 Wita sampai pukul 04.00 dini hari.
Sejak pertama kali dibuka dengan promo besar-besaran, MM Billiard tak pernah sepi dari para pecinta biliar. Mereka menyediakan 20 meja dengan tiga kelas berbeda. Premium dengan sewa Rp 30 ribu per jam, VIP dengan sewa Rp 40 per jam, dan VVIP (ruangan bebas asap rokok) dengan sewa Rp 50 ribu per jam.
Setiap hari, waiting list pasti ada. Kata Charlie, memang biliar saat ini sedang menjadi tren. Media sosial punya peran penting. Anak-anak muda mengupload video dan fotonya di Instagram, TikTok, Facebook, dan platform lainnya. Dari mulut ke mulut, dari cerita ke cerita, mereka datang seperti gelombang pasang.
“Saya senang sekali melihat anak-anak muda sekarang memilih tempat nongkrong yang seperti ini. Dari pada dugem. Selain negatif, dengan uang Rp 200 ribu tidak cukup. Kalau di sini, Rp 200 ribu sudah bisa main sepuasnya, bisa berkumpul, senang-senang, plus minum dan makan,” terang Charlie.
Memasuki enam bulan pertamanya, Charlie menuturkan jika para remaja yang datang bermain ke tempatnya tidak pernah melakukan hal-hal negatif seperti minum-minuman keras, berkelahi, atau apalagi berjudi. Mereka mengganti judi dengan taruhan melaburi wajah yang kalah dengan bedak.
Hal itu juga didukung dengan konsep interior yang terbuka dan pencahayaan yang terang. Tak seperti kebanyakan tempat bermain biliar, MM Billiards memang cukup terbuka dan terang. Para pengunjung bermain bersama di ruangan dengan luas sekitar 400 meter persegi.
Charlie menuturkan, ia senang sekali melihat para remaja yang mungkin biasanya suntuk oleh gawainya kini bisa bersosial dengan teman-temannya secara nyata. Tak lagi terkungkung di dunia maya.
Selain itu, kehadiran generasi masa kini yang memenuhi meja-meja biliar juga kian membawa stigma positif pada permainan biliar. Sebab dulu, biliar memang lekat dengan stigma dunia malam, minuman keras, dan judi.
“Sekarang pandangan itu sudah berubah. Ini juga yang ke depannya kami akan kembangkan agar tempat ini bisa menjadi arena lahirnya bibit-bibit atlet biliar. Ke depan, tentu kami akan membuat turnamen juga,” jelasnya.
Charlie menceritakan jika yang datang ke tempatnya memang didominasi generasi Z dan milenial. Tapi pemain tua tak ingin kalah juga. Mereka yang memang sejak lama sudah mencintai permainan meja hijau dengan bola warna-warni itu justru semakin rajin datang dengan tren biliar yang sedang menyala-nyala.
“Jadi memang dari semua kalangan. Bahkan tidak sedikit juga anak-anak yang datang bermain. Tapi untuk anak-anak, kita perbolehkan jika datang bersama orang tuanya. Kalau sendiri, kita kasi tahu baik-baik kalau mereka harus bersama orang tua,” kata Charlie.
Menariknya, beberapa remaja terkadang datang bersama dan setelah selesai bermain, mereka melingkar mengumpulkan uang patungan untuk bayar. “Benar, ini saya juga suka melihatnya. Mereka menunjukkan kebersamaan. Patungan. Kadang ada yang kurang Rp 5 ribu, saya kasi saja. Dari pada dia harus balik ke rumah nyari tambahan,” tuturnya.
Di tempat yang sama, seorang pemain yang menjadi pelanggan MM Biliards Hifzil Fatoni menerangkan jika ia menggemari biliar dari kebiasaan taruhan. Namun seiring perkembangan zaman, ia bisa menikmati biliar sebagai sebuah permainan yang sportif dan menyenangkan, tanpa harus berjudi.
“Memang sekarang di mana-mana biliar, biliar, biliar. Saya hampir setiap hari main di sini. Biliar ini memang dari dulu banyak digemari, tapi sekarang saja yang jadi ramai sekali karena banyak muncul di media sosial,” terang Hifzi.
Ia berharap tren biliar yang positif bisa terus berkembang. Tempat-tempat biliar yang kian menjamur juga diharapkan tidak cepat mati. Menurutnya, semua tempat sama saja.
“Yang terpenting itu pelayanannya. Memang ada kualitas meja, bola, dan stik juga yang dilihat para pemain. Apalagi yang sudah mahir atau hobi betul. Tapi kalau saya, selain harga dan lokasinya, yang terpenting itu pelayanannya. Kalau bagus, ramah, tidak lama kita memanggil dipasangkan bola, pasti betah. Seperti di sini ini,” terangnya.
Potret perkembangan biliar dari hobi yang ekslusif menjadi inklusif di Kota Mataram memang bisa dilihat dari MM Billiards and Cafe. Hal serupa juga terlihat di WW Billiar yang terdapat di Pagesangan, dan sejumlah tempat lainnya.
Popularitas Biliar
Dari MM Billiards and Cafe, Lombok Post mengunjungi Pocket Family Sport Billiard di Kura-Kura, Mataram. Tempat ini bisa dikatakan menjadi fasilitas biliar yang legendaris di Kota Mataram. Para penggemar biliar di NTB, dari ujung Kota Bima sampai Mataram pasti sudah mencicipi meja biliar di Pocket Family Sport Billiard.
I Made Gumiartha, 40 tahun, salah seorang manager pengelola tempat itu menceritakan kondisi tempat biliar yang dikelolanya sejak tahun 2012. Saat itu, Pocket memiliki fasilitas 13 meja dengan sewa sekitar Rp 20 ribu per jam. Sekarang Pocket punya 35 meja yang terbagi di tiga ruangan. Ada pocket 1, pocket 2, dan pocket 3.
“Biliar ini memang sudah ramai dari dulu. Warga Bima, Dompu, Sumbawa, kalau ke Mataram pasti main di sini. Waiting list-nya bisa sampai 50 lebih. Jadi terkadang mereka bisa menunggu seharian,” kata Made yang sudah hampir 14 tahun bekerja di tempat itu.
Tak diketahui dengan pasti sejak kapan biliar menjadi begitu populer. Namun bagi Made, sejak dulu biliar sudah banyak digandrungi oleh masyarakat dari semua kalangan. Kendati sifatnya masih ekslusif atau hanya untuk orang-orang tertentu, namun biliar sejak awal sudah menjadi tempat ruang berkumpul.
Pocket bisa dikatakan sebagai pioner yang melepas stigma negatif biliar sebagai permainan hiburan malam dengan minuman keras dan judi. Hal itu terlihat dari nama yang diusung, Pocket Family Sport Billiard. Kata Made, memang dari awal, tempat itu menjadi ruang sosial warga untuk berkumpul dengan kerabat dan keluarga terdekatnya.
Letak Pocket billiard juga menjadi satu dengan Kura-Kura, wahana kolam bermain keluarga. Kata Made, kebanyakan para pengelola dan pemilik tempat biliar yang baru buka di Mataram, merupakan pemain di biliar di pocket.
Pemain biliar di pocket sendiri tidak sedikit yang menjadi atlet. Made menerangkan, Pocket Billiard juga menjadi tempat diadakannya seleksi Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk atlet NTB.
Berbicara perkembangan tren biliar, Made melihat hal itu disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya yang terkuat adalah peran media sosial. Ia menduga, pesatnya tren biliar terjadi setelah pandemi Covid-19. Riak-riaknya terjadi pada 2022, di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya sudah menjamur tempat-tempat biliar yang digandrungi anak-anak muda.
“Belakangan di Mataram mulai pesat sejak 2024. Banyak sekali yang buka. Tahun ini juga saya lihat semakin banyak. Itu karena yang main tentu bertambah pesat. Di sini, dengan 35 meja, selalu penuh setiap hari. Waiting list selalu ada,” terangnya.
Perkembangan popularitas biliar menurutnya sangat alami di Kota Mataram. Begitu juga dengan sejumlah tempat di daerah seperti di Lombok Timur. Hal itulah yang membuat Made yakin bahwa tren biliar tidak akan pernah pudar.
“Memang akan terus bertambah penggemarnya. Semakin banyak tempat bermain biliar, tentu yang main juga akan semakin banyak,” jelas Made. (TIM)
Editor : Redaksi Lombok Post