LombokPost - Tren mendaki gunung dengan metode tektok atau mendaki satu hari tanpa menginap kian digandrungi. Namun, bagi Deki Zulkarnain, seorang petualang lokal, pengalaman mendaki di Lombok Utara bukanlah sekadar mengejar waktu, melainkan sebuah ujian fisik dan mental yang tak terlupakan.
Sebagai seseorang yang suka berpetualang, hampir semua perbukitan di Lombok Utara pernah dijajalinya. Seperti kawasan Tebango atau bukit di arah barat Teluk yang menembus Menggala, dan hutan perbukitan kawasan Pusuk.
Kata Dosen Akademi Bisnis Lombok (AKBIL) ini, tektok menjadi caranya mengisi aktivitas ketika ingin mendaki, namun waktu terbatas.
"Penting untuk mengutamakan safety, jangan cuma ikut-ikutan atau FOMO (Fear of Missing Out). Perlengkapan seperti sepatu gunung, kompor portabel, senter, matras, hingga obat-obatan P3K wajib dibawa," tegas pria asal Pemenang ini.
Ia menyarankan agar pendaki tidak meremehkan jalur meskipun hanya berniat melakukan tektok di perbukitan. Bagi Deki, mendaki bukan hanya soal mencapai puncak atau mengambil foto untuk media sosial. Mendaki adalah momen "tempaan diri" di mana karakter asli seseorang akan terlihat, terutama saat menghadapi kelelahan dan keterbatasan.
"Di gunung, kita bisa melihat siapa yang benar-benar peduli. Saya lebih suka mendaki dalam kelompok kecil, dua atau tiga orang. Kesunyian itu lebih nyaman, dan rasa kebersamaannya lebih kuat dibandingkan dalam grup besar yang sering kali abai satu sama lain," tuturnya.
Healing Singkat
Sementara bagi, Laelatunni’am, seorang pekerja media mengaku awal mula tektok gara-gara sering terpapar konten visual di media sosial. “Lihat pemandangan bukit-bukit di Sembalun yang bagus sekali, akhirnya saya tertarik mencoba,” katanya.
Bukit pertama yang ia taklukkan adalah Savana Dandaun. Bukit dengan ketinggian sekitar 1.252 meter di atas permukaan laut (mdpl). Alasan utama Niam memilih sistem tektok ketimbang camping (bermalam) adalah soal waktu dan kepraktisan. Sebagai pekerja yang hanya memiliki waktu libur terbatas di hari Sabtu, tektok adalah solusi paling masuk akal.
“Kalau camping logistiknya banyak. Harus bawa tenda, alat masak, dan beban tasnya berat,” tambahnya.
Meski naik dan turun dalam satu hari, Niam punya strategi sendiri untuk tetap mendapatkan momen terbaik. Ia lebih sering memilih turun saat hari mulai gelap atau night trekking. Tujuannya satu, yakni berburu matahari terbenam (sunset).
“Saya naik siang, sampai di puncak leha-leha sambil cari foto, lalu nunggu sunset. Pas sudah gelap baru turun. Rasanya lebih segar karena tidak panas dan risiko dehidrasi lebih kecil, meski tantangannya memang gelap,” jelasnya.
Hingga saat ini, tercatat ada sekitar empat hingga lima bukit yang sudah ia jajaki dengan sistem tektok. Selain Dandaun dan Pergasingan, Niam juga telah menginjakkan kaki di Bukit Anak Dara yang memiliki ketinggian 1.923 mdpl salah satu puncak tertinggi di barisan perbukitan Sembalun serta Bukit Bao Ritip yang berketinggian sekitar 1.500 mdpl dengan jalur hutan yang lebih rimbun.
Niam menekankan, meski tren ini terlihat mudah di media sosial, riset dan persiapan tetap menjadi kunci utama. Ia menyarankan bagi pemula untuk tidak mendaki sendirian. (fer/chi/r3)
Editor : Kimda Farida