Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sisi Gelap Gemerlap Malam Tahun Baru

Miq Ade • Kamis, 28 Desember 2023 | 17:00 WIB
Sepasang muda-mudi berpegangan tangan.
Sepasang muda-mudi berpegangan tangan.

 

LombokPost--Tahun baru seyogianya tentang harapan dan resolusi. Namun, ada sisi gelap dari perayaan pergantian tahun yang menakutkan.

Kota Mataram saat ini tumbuh menjadi kawasan metropolitan. Di bawah bayang-bayang sisi gelap dari perayaan pesta secara besar-besaran.

Apa itu?

Pesta, hura-hura, dan seks bebas. Untuk seks bebas, ibu kota sulit menghindarkan diri dari maraknya kasus tersebut.

“Saya kira, kunci (membentengi diri) ada di ketahanan keluarga,” kata aktivis perempuan Nur Janah pada Lombok Post, kemarin (27/12).

Ketahanan keluarga menjadi kunci, bila melihat modus seks bebas terjadi di remaja  perkotaan. Salah satu modus yang diungkapkan, seks bebas di malam tahun baru, kerap dimaknai: pembuktian cinta.

Dua orang remaja, berlainan jenis yang dimabuk asmara dengan mudah menjadikan dalih pembuktian cinta sebagai alasan seks bebas. Mengesampingkan ajaran agama dan tata sosial hanya untuk memuaskan nafsu birahi sesaat.

Sepeti halnya hari Valentine, malam tahun baru dipenuhi muda-mudi dimabuk asmara. Aksi seks bebas acap kali dimulai rayuan pria yang berjanji bertanggung jawab pada pasangannya apabila kekasihnya sampai hamil.

“(Segala rayuan dilakukan) yang penting mau membuktikan bahwa mereka saling mencintai, ini modus,” ungkapnya.

Dalih seks bebas juga dijadikan alasan agar pasangan tidak lari atau berpindah ke lain hati. Padahal itu cuma ikatan semu yang kemudian banyak sekali bukti, pasangan yang telah melakukan seks bebas berpisah dengan mudahnya.

Dalam banyak kasus yang pernah ditemui Nur Janah, perempuan akhirnya menjadi korban ketika akhirnya hamil. Tetapi berbagai peristiwa itu, belum juga dapat menjadi pelajaran supaya remaja menghindarinya.

“Ada persepsi remaja yang telah berusia 17 tahun telah mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya, padahal itu tak menghalangi mereka berbuat yang melampaui batas,” tekannya.

Oleh karenanya, peran orang tua masih sangat strategis mencegah seks bebas. Di samping faktor lingkungan yang sehat dan melindungi anak dari berbagai modus.

“Setiap orang harus aware terhadap persoalan ini, peluang ini semakin besar kemungkinan terjadi karena banyaknya tempat yang memungkinkan melakukan itu,” ujarnya.

Mulai dari hotel berbintang, melati, hingga kos-kosan. Di pantai, dan di banyak tempat lain.

“Kalau kita mau mencegah ini, saya pikir kita harus melihat nilai lain tidak hanya bicara kapitalis keuntungan belaka,” dorongnya.

Nur Janah meyakini seks bebas bisa diminimalisir dengan cara itu di perkotaan. Adanya semangat yang sama menganggap setiap pemuda-pemudi sebagai anak sendiri yang harus dicegah dari seks bebas.

“Begitu juga soal edukasi seks atau seks education pada anak-anak. Jangan sampai edukasi itu justru membuat mereka termotivasi melakukannya, tetapi harusnya membuat remaja sadar risiko yang ditanggung a, b, c, d, dan seterusnya bila nekat melakukannya,” ulasnya.

Menggubah perspektif anak muda juga perlu dilakukan. Jangan menjadikan seks bebas sebagai pembuktian cinta dan cara mengikat satu sama lainnya.

“Saya pikir itu cara pandang yang pragmatis,” cetusnya.

Akan lebih baik dan bermanfaat pembuktian cinta dilakukan dengan semangat usaha bersama. “Atau bentuk hubungan yang saling mendukung karier satu sama lainnya, itu lebih sehat,” sarannya.

Nur Janah juga mengingatkan pada setiap perempuan terutama remaja, lelaki identik dengan semangat penakluk. “Apa pun bisa dilakukan untuk merayu pasangannya agar menuruti maunya, tapi kalau kita sadar itu cara dia menaklukkan, tentu tidak mudah tergoda,” paparnya.

Seks bebas, tidak selamanya risikonya pada perempuan. “Saya kira melalui seks education mereka bisa diingatkan tentang tanggung jawab yang akan menyeret mereka bila melakukan itu,” tekannya.

Ia mendorong adanya aturan yang lebih ketat mengawasi tempat-tempat potensial dilakukan seks bebas. Seperti kos-kosan, kontrakan, dan lain sebagainya.

“Menarik untuk dilihat, apakah setelah tahun baru nanti ada peningkatan permohonan kompensasi pernikahan di bawah umur di Pengadilan Agama, karena bisa saja itu korelatif dengan perayaan tahun baru atau Valentine,” pungkasnya.  

Sementara itu, Kasat Pol PP Kota Mataram Irwan Rahadi membuka peluang pihaknya melakukan razia besar-besaran di lokasi yang kerap dijadikan tempat seks bebas. “Ya mungkin saja, nanti kita lihat, kalau ada laporan dan keresahan yang timbul di tengah masyarakat tim bisa turun,” katanya.

Tim Gabungan untuk pencegahan gangguan Kamtibmas akan melibatkan Satpol PP, Polri, dan TNI. “Kami akan melakukan patroli secara bersama-sama untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” tekannya.

Para camat dan lurah juga akan mengintensifkan pengawasan di internal wilayah masing-masing.  “Menyiapkan regulasi dan bersama-sama TNI dan Polri mengontrol keamanan dan ketertiban wilayahnya,” paparnya.

Jajaran camat dan lurah juga diminta standby di wilayah masing-masing. Membuka posko pengaduan dan laporan masyarakat selama kegiatan perayaan berlangsung.

“Sesuai arahan pak Wali,” tekannya.

Sementara itu, Ketua MUI NTB Prof Saiful Muslim, menasihati para generasi muda agar merayakan tahun baru dengan wajar dan penuh makna kebaikan. “Mari kita merayakan tahun baru dengan motivasi yang baik, bagaimana menjadikan tahun depan lebih baik daripada tahun sebelumnya,” katanya bijak. 

Agar tahun depan lebih sukses lagi dari tahun ini. Begitu pula dari aspek kesehatan, lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau selama tahun 2023 kita banyak rugi, kita berdoa agar di tahun 2024 banyak untung. Begitu hakikat yang baik dalam merayakan,” kata tokoh sepuh NTB ini.

Mendoakan agar sisa usia banyak melakukan kemanfaatan. “Rejeki yang luas dan silaturahmi semakin bertambah,” paparnya.

Sementara itu, terkait fenomena seks bebas, Prof Saiful mengingatkan tentang setiap perbuatan manusia akan diganjar sesuai yang diperbuatnya. Serta mendapat pembalasan setimpal di kehidupan kedua kelak. “Jika selama di dunia kita berbuat baik, maka kehidupan akhirat juga baik, jangan keluar dari garis agama,” nasihatnya. (zad)

Editor : Hidayatul Wathoni
#perayaan #pemuda #Mataram #tahun baru #modus #cinta #seks bebas