Optimalkan Lahan Terbatas, Produksi Padi Kota Mataram Tembus 21 Ribu Ton di 2025
Sanchia Vaneka• Senin, 29 Desember 2025 | 16:48 WIB
realisasi produksi petani mataram
LombokPost – Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram mencatatkan pencapaian gemilang di sektor ketahanan pangan menjelang akhir tahun 2025. Meski berstatus sebagai wilayah urban dengan lahan yang kian menyusut, realisasi produksi padi di ibu kota NTB ini berhasil melampaui target yang ditetapkan.
Berdasarkan data hingga November 2025, angka produksi padi telah menyentuh 21.596 ton. Capaian ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pangan daerah.
Kepala Bidang TPH Dinas Pertanian Kota Mataram, Liswati, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil dari optimasi lahan melalui strategi Luas Tambah Tanam (LTT).
“Produksi padi kita sampai November sudah di angka 21.596 ton. Kami akan melakukan kalkulasi total untuk satu tahun penuh pada akhir Desember nanti,” ujar Liswati.
Berikut adalah rincian performa pertanian Kota Mataram hingga November 2025:
Sektor pertanian Kota Mataram menunjukkan performa yang sangat impresif hingga November 2025, di mana total produksi padi berhasil menembus angka 21.596 ton. Capaian luar biasa ini didukung oleh luas panen yang mencapai 3.358,56 hektare dengan tingkat rata-rata produktivitas sebesar 64,30 kwintal per hektare.
Keberhasilan ini tidak lepas dari efektivitas strategi Luas Tambah Tanam (LTT) yang realisasinya telah menyentuh 3.236,19 hektare, membuktikan bahwa optimalisasi lahan baku sawah melalui intensifikasi tanam mampu memberikan hasil maksimal bagi ketahanan pangan daerah.
Saat ini, luas baku sawah di Kota Mataram hanya tersisa 1.382 hektare. Namun, melalui efisiensi pemanfaatan lahan, Distan mampu melakukan masa tanam lebih dari dua kali dalam setahun pada lahan yang sama.
“Secara produktivitas, per hektare lahan mampu menghasilkan gabah kering sekitar 6,5 sampai 7,5 ton. Strategi LTT terbukti efektif menjaga ritme produksi tetap stabil meski lahan terbatas,” tambah Liswati.
Menghadapi sisa bulan Desember, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Johari, menekankan pentingnya mitigasi risiko cuaca ekstrem. Fokus utama saat ini adalah memastikan infrastruktur irigasi berfungsi maksimal untuk mencegah gagal panen akibat banjir.
“Kondisi semua aman sejauh ini. Namun, yang paling krusial di musim hujan ini adalah perhatian terhadap saluran air atau irigasi,” tegas Johari.
Johari menyoroti tantangan utama dalam distribusi air, yakni tumpukan sampah yang kerap menyumbat saluran saat hujan deras. Pihaknya mengimbau petani dan kelompok tani untuk:
Rutin melakukan gotong royong membersihkan saluran tersier.
Membersihkan sedimentasi agar aliran air lancar.
Memastikan air hujan mengalir ke sawah, bukan meluap ke pemukiman.
“Jika saluran air lancar, air hujan justru sangat membantu pengairan. Jangan sampai sampah membawa masalah bagi petani,” imbuhnya.