Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Quesillo M’dish Lombok yang Viral di TikTok, Raup Laba Jutaan Per Hari

Sanchia Vaneka • Senin, 2 Februari 2026 | 21:59 WIB

Quesillo di depan eks bandara
Quesillo di depan eks bandara

 

LombokPost - Lapak sederhana di depan eks Bandara Selaparang itu tak pernah sepi dari kerumunan anak muda yang memburu kelembutan dessert khas Amerika Latin.

Di balik kemudi Quesillo M’dish Lombok, Moch Dinung Ikhsanul Amal berhasil mengubah kegagalan resep berulang kali menjadi peluang bisnis yang manis dan menjanjikan.

Sore itu, aktifitas lalu lintas di Jalan Adi Sucipto cukup sibuk, namun antrean di sebuah lapak kecil justru semakin memanjang. Seorang pemuda dengan senyum ramah sibuk melayani pembeli yang tak sabar mencicipi irisan kue lembut berlapis karamel.

Moch Dinung Ikhsanul Amal, alumni Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah naik daun dan viral di TikTok berkat kudapan bernama Quesillo.

“Dulu awalnya benar-benar dari nol. Modalnya dari gaji yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit,” buka Dinung mengawali cerita, Kamis (29/1). 

 Baca Juga: Pemkot Mataram Kecewa Berat, Sudah Ada PKS tapi PT Angkasa Pura Pilih Gandeng Swasta untuk Kelola Eks Bandara Selaparang

Keputusannya untuk menjadi bos bagi diri sendiri bukanlah jalan tol yang mulus. Dinung harus melewati fase trial and error yang menguras kantong dan energi.

Ide berjualan Quesillo atau yang akrab disebut kue silu oleh lidah lokal muncul saat ia melihat tren kuliner di luar daerah yang viral di media sosial. Melihat pasar kuliner di Mataram, khususnya wilayah Selaparang yang didominasi makanan asin seperti dimsum dan cilok, Dinung melihat celah. 

“Pasar makanan manis di sini masih kurang. Paling cuma slice cake biasa. Saya memberanikan diri menghantam pasar yang manis-manis itu karena pesaingnya masih sedikit,” jelasnya. 

Namun, semangat saja tidak cukup. Eksperimen pertama hingga keempat adalah fase menguras bagi dompetnya. Di percobaan pertama, kuenya dinilai berbau amis dan ukurannya terlalu kecil.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ramai, Wisata NTB Bikin Turis Enggan Pulang

Masuk ke percobaan kedua, rasa manisnya justru berlebihan hingga membuat orang enggan menghabiskannya. Percobaan ketiga pun tak kalah menantang, ukuran diperbesar namun teksturnya hancur.

“Jujur, awalnya kami pesimis. Bahan untuk satu loyang itu mahal sekali. Rasanya kok rugi banget kalau gagal terus. Tapi saya prinsipnya satu-satu dulu diselesaikan, kalau gagal yang ini baru lanjut yang lain,”kenangnya.

Titik balik terjadi pada eksperimen kelima. Dengan bantuan Ibu, sosok yang ia sebut sebagai ahli masak andalan keluarg resep keramat itu akhirnya ditemukan. Perpaduan kelembutan tekstur dengan karamel yang pas, tanpa rasa pahit yang berlebihan.

Kini, Quesillo M’dish Lombok telah menemukan bentuk sempurnanya. 

Dengan harga Rp 15.000 per slice, kudapan ini menjadi barang mewah yang terjangkau bagi semua kalangan. Strategi pemasaran mereka pun terbilang unik. Memanfaatkan kepiawaian pacar adiknya dalam mengelola konten TikTok, video-video promosi mereka kerap masuk FYP (For Your Page).

Baca Juga: Lombok Utara Hebat, Gili Festival dan Maulid Adat Bayan Masuk KEN 2026

Alhamdulillah, efek media sosial luar biasa. Dulu awal buka 17 Desember di CFD hanya bawa dua loyang dan habis sejam. Sekarang, empat hari setelah buka lapak permanen, jualan habis dalam 30 menit saja,” tuturnya bangga.

Manajemen produksi pun kini ia bagi secara apik bersama keluarga. Dinung bertugas menyiapkan bahan baku, sang Ibu mengeksekusi dapur, dan sang adik menjadi garda terdepan dalam penjualan. 

Jika awalnya mereka hanya mampu memproduksi empat loyang per hari, kini di hari kerja mereka konsisten di angka 10-12 loyang. Target berikutnya pun, menembus 20 loyang per hari.

Langkah Dinung tak berhenti di sini. Ia telah menyusun roadmap bisnis yang matang. Sebulan pertama untuk pengenalan, bulan kedua membangun brand, dan bulan ketiga menyambut Ramadan yang jatuh pada Februari ini. 

“Ramadan nanti targetnya ambil keuntungan maksimal. Makanya sekarang semua operasional dan penampilan lapak terus saya perbaiki pakai keuntungan bulan pertama kemarin,” pungkas alumni UMM ini.

 

Editor : Marthadi
#UMKM #PKL #kue #Mataram #Eks Bandara