Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tren Baju Lebaran Bergeser ke Ekonomis

Sanchia Vaneka • Rabu, 18 Maret 2026 | 07:57 WIB

 

Roy, fashion designer Lombok
Roy, fashion designer Lombok
 

LombokPost – Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, geliat industri fashion di NTB, khususnya di Pulau Lombok, mulai menunjukkan arah tren yang cukup kontras dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meski model busana muslim seperti Gamis dan Koko tetap menjadi primadona yang tak tergantikan, ada pergeseran signifikan baik dari segi pilihan warna maupun perilaku belanja masyarakat.

“Tentunya koko dan gamis masih jadi primadona ya. Tapi memang ada beberapa perubahan,” kata Desainer fashion asal Lombok Roy Primanto. 

Roy mengungkapkan, tren fashion tahun ini merupakan perpaduan antara pengaruh gaya global dan realitas ekonomi lokal.

Menurutnya, jika tahun lalu publik sempat demam dengan warna sage green, maka tahun ini spektrum warna hijau tetap bertahan namun dengan karakter yang berbeda.

Roy menjelaskan, kiblat fashion internasional seperti rumah mode Dior dan Bottega Veneta saat ini tengah menggandrungi palet warna hijau yang lebih matang.  

“Kalau kita melihat brand-brand luar, semua sudah mengarah ke hijau. Mulai dari hijau daun muda hingga hijau olive. Tren ini mulai meresap ke pasar lokal kita,” ujarnya.

 Baca Juga: Bikin Haru! 200 Anak Yatim “Serbu” Mall di Mataram, Pilih Sendiri Baju Lebaran Impian

Namun, ia memberikan catatan, pasar lokal di Lombok biasanya memiliki jeda waktu atau time lapse dengan tren global. Di tingkat konsumen bawah hingga menengah, warna-warna pastel dan earth tone diprediksi masih akan mendominasi panggung Lebaran tahun ini. Karakter warna ini dianggap paling aman dan sesuai dengan filosofi Idul Fitri yang suci dan menenangkan.

“Tren lokal kita ini masih sebatas pastel dan earth tone. Itu karena memang lebih sesuai dengan esensi Lebaran itu sendiri yang ingin tampil bersih namun tetap elegan,”imbuhnya.

Dari segi model, Roy menegaskan pakem busana Muslim untuk Lebaran sebenarnya tidak banyak berubah karena terikat pada aturan syariat.

Gamis tetap menjadi pilihan utama bagi perempuan karena potongan oversize atau longgar yang menutup aurat dengan sempurna.

“Gamis itu secara global memang oversize. Sesuai aturan baku muslim kan sebaiknya menggunakan baju longgar. Panjang tangan dan panjang dress harus sesuai aturan syariah agar tidak memperlihatkan aurat,” jelasnya.

Namun, ada fenomena menarik yang ditangkap Roy pada musim Lebaran kali ini, yakni fenomena downgrade atau penurunan kelas belanja.

Jika sebelumnya masyarakat banyak yang memesan baju secara eksklusif ke penjahit (custom-made) dengan detail brokat yang rumit, kini pasar lebih condong ke produk massal atau ready-to-wear.

Baju gamis dengan teknik printing (cetak motif) kini merajai pasar karena harganya yang jauh lebih terjangkau. 

“Sekarang trennya menuju ke pasar yang lebih ekonomis. Masyarakat lebih memilih membeli baju jadi daripada ke penjahit. Harganya lebih murah, kisaran Rp 90 ribu sampai Rp 125 ribu sudah bisa dapat gamis yang bagus karena diproduksi secara massal,” paparnya.

Tren sarimbit atau seragam keluarga yang biasanya menjadi simbol kekompakan saat Lebaran juga mengalami pergeseran konsep. Alih-alih mengejar kesan mewah dengan payet atau bahan sutra, keluarga di Lombok kini lebih memilih konsep minimalis dan fungsional.

Roy menilai faktor utama dari tren ini adalah kondisi ekonomi. Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat masyarakat harus memutar otak dalam mengalokasikan tunjangan hari raya (THR).  

“Banyak yang sekarang belinya jadi saja, tidak lagi seragaman yang dijahit khusus. Ini mungkin dampak dari penurunan daya beli atau prioritas ekonomi keluarga yang berubah,” katanya.

Menurutnya, kain printing menjadi solusi bagi mereka yang ingin tetap tampil modis secara seragam tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Produksi massal membuat biaya produksi ditekan, sehingga harga jual ke konsumen pun lebih ramah di kantong.

Menatap dua hingga tiga tahun ke depan, Roy memberikan pandangan yang cukup realistis sekaligus kritis terhadap industri fashion di Bumi Gora. Ia menilai industri ini masih nampak lesu dan diprediksi akan terus mengarah ke pasar menengah ke bawah.

“Saya rasa industri fashion di Lombok masih agak lesu. Periodik tiga tahun ke depan akan lebih ke arah massal dan ekonomis. Toko-toko sekarang lebih menyasar pasar menengah ke bawah dan mengesampingkan sisi eksklusivitas,”tuturnya.

Roy menganalisis fashion, sebagai barang sekunder atau bahkan inferior bagi sebagian orang, akan selalu kalah dengan kebutuhan primer.

Ketika harga beras, minyak goreng, dan bahan bakar naik, maka keinginan untuk memiliki baju Lebaran yang mahal akan dikesampingkan.

“Kalau tingkat ekonomi kita naik, tentu kita berani beli yang jutaan. Tapi kalau harga kebutuhan pokok naik sementara penghasilan tetap, ya fashion jadi pilihan kedua. Orang lebih memilih untuk survive,”tegasnya.  

Roy menyarankan masyarakat untuk tetap cerdas dalam memilih busana. Meski memilih jalur ekonomis dengan membeli produk massal, masyarakat tetap bisa tampil stylish dengan memperhatikan padu padan warna yang tepat.

Penggunaan kombinasi kulot dengan atasan panjang atau kaftan juga bisa menjadi alternatif selain gamis konvensional, asalkan tetap menjaga aturan kelonggaran busana sesuai syariat. 

“Yang penting adalah kenyamanan dan bagaimana baju tersebut tetap merepresentasikan nilai-nilai kesopanan di hari raya,” pungkasnya.  

Editor : Kimda Farida
#tren baju lebaran #fashion #gamis abaya modern #Mataram #Baju Lebaran #sarimbit