"Sesuai pemberitahuan yang disampaikan ke kami, rombongan Nyongkolan masuk ke Kota Mataram pukul 02.00 siang. Tapi itu sebenarnya bukan ranah kami, tetapi Polresta Mataram dan Polres Lombok Barat," jelas Kabid Operasi Pengendalian Lalu Lintas Arif Rahman, kemarin (12/2).
Pihak yang memberikan izin penggunaan jalan menurutnya bukan pihak Dishub Kota Mataram. Tetapi pihak dari Polres Lombok Barat dan Polresta Mataram. Pihak Dishub Kota Mataram hanya menerima pemberitahuan yang kemudian mengirim anggota untuk mengawal acara tersebut. Agar arus lalu lintas bisa berjalan lancar.
"Jalan tidak ditutup total. Kendaraan masih bisa lewat," jelasnya.
Untuk mengantisipasi kemacetan atau kondisi jalan padat merayap, pihak Dishub dan pihak kepolisian mengawal rombongan Nyongkolan dengan tertib. Sehingga hanya satu ruas jalan saja yang digunakan. Sisanya, kendaraan masih bisa melintas. "Rutenya dari Sekotong berangkat pukul 13.00 Wita. Masuk Mataram sekitar pukul 14.00 Wita kemudian dari Bundaran Mataram Metro menggunakan iringan mobil ke Jalan Majapahit sampai Panji Tilar. Ada sekitar 250 kendaraan," papar Arif.
Namun saat iringan rombongan berjalan Nyongkolan dari Jalan Panji Tilar Ampenan atau depan Museum NTB, ruas jalan sesak oleh warga. Mengingat iringan Nyongkolan dilakukan dengan berjalan kaki diiringi puluhan grup Gendang Beleq menuju Gedung Imperial Ballroom Panji Tilar. Sebagian warga yang beraktivitas diarahkan menggunakan jalur alternatif. Menyusul sepanjang Jalan Panji Tilar dari depan Museum NTB hingga pertigaan Karang Pule Batu Dawa penuh oleh iringan rombongan Nyongkolan.
"Kalau secara resmi kami tidak mengeluarkan sosialisasi. Tetapi kepolisian yang mensosialisasikan. Karena kami sifatnya hanya mengawal," lanjut Arif.
Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Abd Rachman menanggapi acara ini. Menurutnya, tak masalah acara tradisi Nyongkolan digelar oleh siapa saja. Baik oleh masyarakat biasa atau keluarga pejabat aparat pemerintah. "Yang penting prinsipnya jangan mengorbankan kepentingan masyarakat umum demi kepentingan pribadi atau golongan," pintanya.
Jalan raya adalah akses lalu lintas bagi publik. Banyak kepentingan warga yang menurutnya bisa saja urgent atau penting. Maka ini harus jadi pertimbangan oleh siapa saja yang ingin menutup jalan. "Jangan sampai kita begitu mudah menutup akses jalan yang didalamnya ada banyak kepentingan orang yang membutuhkan akses jalan tersebut," tegas Politisi Gerindra ini.
Dari pantauan Lombok Post, acara Nyongkolan putra Wakil Bupati Lombok Barat ini ditunggu oleh warga yang ingin melihat langsung prosesinya. Warga sejak selepas asyar sudah berkumpul di pinggir jalan ini melihat acara ini. "Ingin lihat langsung. Lumayan jadi hiburan keluarga," ujar Siti, salah satu warga.
Sejumlah warga juga beramai-ramai mengabadikan momen ini dengan merekam gambar dengan kamera handphone miliknya. Meskipun sejak awal acara ini menuai pro kontra karena dikritik akibat ditutupnya ruas jalan akibat adanya acara Nyongkolan keluarga pejabat pemerintah. "Harus dipertimbangkan juga ketika ada ambulance yang melintas atau kendaraan yang memang penting. Jangan sampai karena jalan ditutup justru memberi mudharat bagi orang lain," ujar Erul, salah satu warga lainnya. (ton/r3) Editor : Administrator