Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jamaah Umrah Transit Banyak Tertahan di Kawasan Timur Tengah

Lombok Post Online • Rabu, 4 Maret 2026 | 08:58 WIB

 

Dahnil Anzar Simanjuntak
Dahnil Anzar Simanjuntak
 

LombokPost - Para jamaah umrah Indonesia yang ke Tanah Suci menggunakan pesawat transit yang paling merasakan dampak konflik Iran versus Israel dan Amerika Serikat.

Mereka terdampar di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah karena maskapai yang mereka naiki tak bisa melanjutkan perjalanan.

Menurut Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak, para jamaah tersebut memang mendapatkan refund atau pengembalian biaya tiket.

Namun, persoalannya, tiket penerbangan untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia rata-rata saat ini sangat mahal.

"Jamaah ada yang uangnya terbatas, kesulitan membeli tiket pulang ke tanah air yang rata-rata harganya tinggi. Banyak dari mereka yang tidak mempersiapkan uang banyak karena sejak awal tidak mengira ada biaya tambahan akibat perang di Timur Tengah," kata Dahnil di sela Konsolidasi Perhajian dan Umrah di Asrama Haji Banten di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, kemarin (3/3).

Kemenhaj belum merekap data mereka yang terdampar di bandara transit. Sementara itu, jemaah yang masih ada di Saudi berjumlah 58.876 orang.

Dahnil menjelaskan, yang menggunakan penerbangan direct atau langsung dari Saudi ke Indonesia tidak mengalami masalah.

Namun, yang memakai penerbangan transit juga terkendala karena pesawat mereka masih harus transit di wilayah Teluk yang wilayah udaranya tengah genting akibat saling serang antara Iran dan Israel serta AS. Misalnya di Abu Dhabi Uni Emirat Arab.

Skenario Darurat

Baca Juga: Tak Gentar Konflik Iran-AS, 40 Jamaah Muhsinin Tetap Khusyuk Umrah di Mekkah

Pemerintah, kata Dahnil, menyiapkan skenario darurat jika eskalasi perang di Timur Tengah meningkat. “Analisis Kementerian Luar Negeri, variabel menurunnya eskalasi lebih kecil ketimbang variabel meningkatnya eskalasi,” jelasnya.

Dahnil menambahkan, pemerintah telah menyiapkan dua unit pesawat Garuda. Kedua pesawat tersebut digunakan secara khusus untuk menjalankan evakuasi WNI di Timur Tengah jika eskalasi perang semakin membahayakan. Misi evakuasi WNI itu termasuk jemaah umrah yang terjebak dan tidak bisa kembali ke tanah air. Namun, keputusan baru akan diambil saat eskalasi ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat.

Dahnil menyebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kemenlu dan Garuda Indonesia. Dia meminta maskapai pelat merah tersebut untuk menambah penerbangan guna menjemput para jamaah yang tertahan.

Dahnil memberikan catatan kepada Garuda agar tidak memasang harga tiket yang terlalu mahal. “Karena ada misi kemanusiaan juga,” katanya.

Di sisi lain, Kemenhaj kembali menyampaikan imbauan kepada calon jamaah umrah untuk menunda keberangkatan. “Ini bukan larangan. Ini imbauan,” jelasnya.

Pada periode Maret sampai April nanti, jumlah keberangkatan jamaah umrah Indonesia sekitar 43 ribu orang. Jika ditambah dengan umrah mandiri, jumlahnya bisa tembus 50 ribu orang lebih. 

Editor : Akbar Sirinawa
#tanah suci #Indonesia #Penerbangan Transit #Umrah #jamaah