Meninggalnya pria yang konsisten menduduki puncak daftar orang terkaya di tanah air ini menandai berakhirnya era kepemimpinan salah satu maestro ekonomi paling berpengaruh di Indonesia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman jawapos.com, kepastian wafatnya Michael disampaikan langsung oleh Corporate Communication Manager PT Djarum, Budi Darmawan.
"Keluarga Besar PT Djarum berdukacita atas wafatnya Pak Michael Bambang Hartono, Kamis 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura," ungkap Budi melalui keterangan tertulisnya.
Membangun Kekaisaran Bisnis dari Nol
Lahir dengan nama Oei Hwie Siang di Kudus pada 2 Oktober 1939, Michael adalah putra dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum.
Bersama adiknya, Robert Budi Hartono, ia berhasil membangkitkan perusahaan dari titik nadir setelah pabrik mereka luluh lantak akibat kebakaran hebat pada 1963.
Di tangan mereka, Djarum bertransformasi menjadi raksasa industri rokok yang merambah pasar global sejak awal 1970-an.
Tak berhenti di sana, melalui PT Dwimuria Investama Andalan, keluarga Hartono melebarkan sayapnya ke sektor perbankan dengan menjadi pemilik mayoritas Bank Central Asia (BCA).
Warisan Triliunan dan Dedikasi untuk Bangsa
Bukan sekadar pengusaha, Michael juga dikenal sebagai sosok yang sangat kompetitif. Pada usia 78 tahun, ia sempat mencatatkan sejarah sebagai atlet tertua kontingen Indonesia di ajang Asian Games 2018 melalui cabang olahraga bridge.
Menurut data terbaru, kekayaannya diperkirakan mencapai USD 19,7 miliar atau setara Rp 306,23 triliun. Gurita bisnisnya pun kian menggurita hingga ke sektor infrastruktur telekomunikasi melalui Sarana Menara Nusantara (TOWR) hingga industri elektronik bermerek Polytron.
Baca Juga: Sama Dengan Muhammadiyah, Dua Ponpes Besar Ini Tetapkan Lebaran 2026 pada Jumat 20 Maret
Selain sisi bisnis, kontribusinya bagi masyarakat luas terus mengalir melalui Djarum Foundation yang aktif di bidang pendidikan, olahraga, hingga pelestarian budaya. Kepergian Michael Bambang Hartono merupakan kehilangan besar bagi Indonesia, namun warisan bisnis dan nilai-nilai kerja kerasnya dipastikan akan tetap abadi.
Editor : Marthadi