Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bikin Kantong Jebol! Krisis Cokelat Dunia Hantui Valentine, Ternyata Ini Penyebab Harganya Selangit

Marthadi • Jumat, 13 Februari 2026 | 23:34 WIB

Cokelat Valentine. (Istimewa)
Cokelat Valentine. (Istimewa)
LombokPost – Bayangkan merayakan Hari Valentine tanpa lelehan cokelat manis di mulut. Kedengarannya mustahil, namun itulah kenyataan pahit yang sedang menghantui para perajin cokelat dunia akibat lonjakan harga bahan baku yang gila-gilaan.

Dikutip dari laporan wesa.fm, industri global kini tengah berjuang keras menstabilkan diri setelah harga kakao mencetak rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Suhu panas yang ekstrem, hujan yang tak menentu, hingga serangan penyakit tanaman di wilayah penghasil utama seperti Afrika Barat menjadi biang keladi menyusutnya pasokan dunia.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan tarif yang sempat diberlakukan pemerintah Amerika Serikat, yang mendorong harga komoditas ini semakin melambung tinggi.

Di Pittsburgh, Amerika Serikat, para pengusaha cokelat mulai dari skala besar hingga rumahan merasakan dampak langsung dari "kiamat" kakao ini.

Bill Sarris, CEO Sarris Candies, mengungkapkan betapa menyesakkannya beban biaya yang harus mereka tanggung.

"Tarif tersebut benar-benar mahal. Untuk setiap 100.000 dolar yang biasa kami belanjakan, ada tambahan 18.000 dolar untuk tarif saja," jelasnya.

Ia menyebut perusahaannya harus menelan biaya tambahan sekitar 68.000 dolar AS (sekitar Rp1 miliar) per bulan hanya untuk menutupi biaya tarif tersebut.

Meski harga kakao sempat menyentuh angka fantastis 11.500 dolar AS per ton pada musim panas 2024, para produsen seperti Pollak’s Candies dan Betsy Ann Chocolates berusaha keras agar produk mereka tetap terjangkau.

Sebagian memilih "memakan" biaya tambahan tersebut demi pelanggan, namun ada pula yang terpaksa menaikkan harga jual.

"Kami adalah orang-orang cokelat, jadi kami jalani saja," ujar Jim Paras, pemilik Betsy Ann Chocolates, yang menaruh harapan pada keinginan abadi manusia terhadap cokelat meski di tengah badai harga.

Kini, meskipun pasokan mulai pulih dan tarif telah dicabut di awal 2026, harga cokelat di pasaran diprediksi tidak akan turun dalam waktu singkat.

Baca Juga: BI NTB Siapkan Rp 3,3 Triliun untuk Penukaran Uang di Momen Ramadan dan Idulfitri 1447 H

Hal ini dikarenakan banyak produsen masih terikat kontrak pembelian saat harga sedang berada di titik tertinggi.

Bagi Anda para pejuang restu di Hari Valentine, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam demi sekotak cokelat manis untuk si dia.

Editor : Marthadi
#harga cokelat Valentine #Berita Internasional #krisis kakao global #cokelat mahal #industri cokelat