“Namun, data yang ada jangan ditelan mentah-mentah. Penyebab kontraksi itu perlu dibedah,” katanya, kemarin (27/5)
Wahyudin membeberkan alasan mengapa pertumbuhan ekonomi NTB di Triwulan 1 2025 bisa minus 1,74 persen. Ini karena dipengaruhi penurunan pertumbuhan di sektor pertambangan.
“Sektor pertambangan itu memiliki share yang besar di ekonomi NTB, sekarang tumbuhnya minus 30,14 persen,” jelasnya.
Sementara sektor basis yang paling banyak menyerap tenaga kerja di NTB adalah sektor pertanian dengan jumlah kontribusi terbesar terhadap perekonomian NTB yaitu sekitar 23 persen.
Saat ini sektor pertanian NTB tumbuh hingga 10,28 persen. “Pertumbuhan 10,28 persen itu selama lima tahun terakhir belum pernah terjadi dua digit seperti itu. Sekitar 5 persen biasanya,” ujarnya.
Begitu juga dengan masyarakat NTB yang bekerja di sektor pertanian sekitar 34 persen. “Otomatis hampir setengah penduduk kita mengalami pertumbuhan yang positif dan jauh tinggi,” lanjutnya.
Ia pun memperjelas, bahkan saat NTB mengeluarkan sektor pertambangan dari jajaran pendongkrak pertumbuhan ekonomi, bukannya malah negatif, justru tumbuh positif di angka 5,57 persen.
“Kalau kita keluarkan tambang, tumbuhnya 5,57 persen dan itu juga tumbuh cukup tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya,” tegasnya.
Pada triwulan IV 2024, pertumbuhan ekonomi NTB tanpa sektor tambang di angka 3,74 persen; triwulan III sebesar 3,86 persen; dan triwulan II sebesar 4,83 persen.
“Jadi pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang itu tinggi,” tegasnya sekali lagi.
Meski pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan 1 2025 minus 1,47 persen, bukan berarti terjadi penurunan daya beli masyarakat. Dari catatan BPS NTB, daya beli dan konsumsi masyarakat NTB saat ini justru tumbuh 4,18 persen.
“Artinya tidak ada pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat, karena yang menurun itu adalah sektor pertambangan 30,18 persen,” jelas dia.
Wahyudin menegaskan, bahwa ekonomi NTB saat ini dalam kondisi yang baik-baik saja, kendati mengalami kontraksi yang disebabkan sektor pertambangan. Karena sektor pertambangan adalah sektor non basis, di mana pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap masyarakat NTB.
“Tidak terlalu berdampak bagi masyarakat karena sebagian kecil yang bekerja di sana, sektor ini padat modal, bukan padat karya,” tandasnya.
Langkah Pemprov NTB
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB Lalu Mohammad Faozal mengatakan apa yang dipaparkan oleh BPS NTB merupakan jawaban pemprov terhadap apa yang disampaikan mendagri.
“Ini jawaban kami soal apa yang disampaikan bapak mendagri,” jelas Faozal.
Pernyataan BPS, BI Perwakilan NTB dan pemprov akan disusun, sebagai surat resmi dari Gubernur Iqbal untuk mengklarifikasi pernyataan mendagri, perihal pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan 1 2025 minus 1,47 persen dan secara keseluruhan saat ini.
“Ini loh kondisi NTB yang sebenarnya,” tegas dia.
Terpisah, Kepala Bappeda NTB Iswandi menjelaskan saat ini, Pemprov NTB tengah menyusun program unggulan NTB Agromaritim. Program ini diarahkan sebagai suatu terobosan dalam mewujudkan Bumi Gora sebagai lumbung pangan nasional, serta meningkatkan pengembangan ekspor non tambang dan penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Sektor agromaritim di NTB berkontribusi sekitar 4,3 persen terhadap PDRB daerah. Sektor ini meliputi kelautan dan perikanan, serta sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan.
Provinsi NTB sebagai lumbung pangan nasional berupaya menjaga produksi komoditas pangan yang telah sawasembada seperti padi, jagung, cabai rawit, cabai besar dan bawang merah.
Selanjutnya ada tujuh komoditas pangan yang masih perlu ditingkatkan produktivitasnya, sehingga ini bisa memenuhi kebutuhan dalam daerah dan menekan impor dari daerah lain seperti daging sapi, daging ayam, telur, bawang putih, minyak goreng, gula dan bawang putih.
Di samping itu, Pemprov NTB juga telah memetakan hampir 40 komoditas agromaritim, dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan serta peternakan yang potensial dikembangkan menjadi komoditas ekspor kedepannya.
“Untuk komoditas ekspor non tambang yang selama ini terus mengalami peningkatan dari sisi jumlah dan nilai akan terus kita atensi, begitu juga dengan negara tujuan ekspornya akan terus diperluas dan ditambah,” kata Iswandi.
Selain itu, pemprov terus meningkatkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi. Menurutnya, jika mengambil contoh seperti Bali tanpa tambang dan ditopang pariwisata, daerah tersebut bisa tumbuh progresif.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Mataram (Unram) Dr Firmansyah menyarankan kepada Mendagri Tito Karnavian, sebelum memaparkan kondisi ekonomi suatu daerah, harus dipahami dahulu tipologi perekonomiannya.
“Seharusnya mendagri paham, kontributor terbesar dalam PDRB (Produk Domestik Regional Bruto, Red) atau pertumbuhan ekonomi NTB dari tambang,” ujarnya.
Menurut dia, menurunnya atau terkontraksinya ekonomi NTB, terjadi karena ada andil pemerintah pusat yang melarang ekspor tambang. Mendagri harus berkomunikasi dengan Kementerian ESDM, bagaimana pun NTB adalah daerah yang tingkat pertumbuhannya masih bertumpu pada sektor pertambangan.
“Mungkin pemerintah pusat ingin memastikan smelter itu cepat diselesaikan jadi jangan lagi mengekspor konsentrat, tapi memang konsekuensinya akan terjadi seperti ini,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram tersebut.
Sebenarnya bila dilihat secara rinci, dia menyebut fundamental ekonomi NTB sama seperti daerah lain, tumbuh di atas 5 persen tanpa sektor pertambangan. “Mengeluarkan tambang itu bukan berarti tidak menganggap penting, namun kita bisa melihat pertumbuhan dari sektor yang tidak terlalu jauh kontribusinya ke PDRB di angka 5,57 persen,” bebernya.
Dari kacamatanya, fenomena pertumbuhan ekonomi terkontraksi akan terus berulang, tergantung dari keran ekspor ini dibuka atau ditutup. Tetapi akan selesai apabila Smelter AMNT sudah berjalan.
Kendati demikian, Firmansyah berharap atensi Mendagri Tito terhadap pertumbuhan ekonomi NTB, tetap menjadi bahan evaluasi. Tidak dipungkiri, ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemprov NTB agar kontribusi masing-masing sektor harus setara, bukan berrgantung pada satu sektor tertentu.
“Setidaknya mendekati sama rata, agar kalau ada yang minus, setidaknya bisa tertutupi,” pungkasnya. (yun/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam