Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Day Care untuk Lansia, Suatu Konsep Layanan Kesehatan Paripurna Masa Depan

Baiq Farida • Rabu, 31 Mei 2023 | 20:40 WIB
Photo
Photo
Oleh: Wiwin Nurhasida

(Afiliasi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) Magister Manajemen Inovasi).

Tanggal 29 Mei selalu diperingati sebagai Hari Usia Lanjut Nasional (HLUN). Lansia (lanjut Usia) adalah kategori orang yang telah berusia di atas 60 tahun, sesuai dengan Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia dan definisi menurut WHO (World Health Organisation).

Jika membaca sejarah bagaimana awal diperingatinya HLUN adalah ikhtiar untuk mengapresiasi semangat serta menghargai peran penting para lanjut usia dalam kiprahnya mempertahankan kemerdekaan, mengisi pembangunan dan memajukan bangsa Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatkan kepedulian semua pihak akan keberadaan lansia. Sebagai salah satu kelompok masyarakat yang tergolong “senior”, lansia lebih berisiko mengalami penurunan kapasitas fungsional dan kualitas kesehatan. Maka para lansia selayaknya juga mendapatkan akses yang lebih baik terhadap layanan publik seperti akses transportasi, pendidikan, pekerjaan, perumahan, domisili dan utamanya adalah kesehatan.

Kemenkes RI memiliki definisi sendiri mengenai sehat dan bugar. Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, sehat adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan bugar adalah kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan penuh energi dan setelah menyelesaikan kegiatan tersebut masih memiliki semangat dan tenaga cadangan untuk menikmati waktu senggang dan siap untuk melakukan kegiatan lain yang mendadak atau tidak terduga.

Terjadi perubahan fisiologis dan psikologis pada Lansia di usia tersebut. Seiring dengan penuaan pada seluruh sistem organ. Sebagai contoh penurunan curah jantung (cardiac output) dan peningkatan tekanan darah, seringkali berdampak masalah pada jantung dan sistem sirkulasi (Hypertensi), perubahan degeneratif terjadi pada sejumlah sendi dan kombinasi dengan penurunan massa pada otot, yang kemudian menjadikan masalah pergerakan pada lansia. Fungsi dari otak, termasuk kemampuan kognitif, emosi, perilaku keseharian dan fungsi otonom menunjukkan penurunan seiring dengan terjadinya penuaan. Pada tahun 2020 kurang lebih sekitar 5,4 juta individu (22,2 persen) berusia lebih dari 71 tahun di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan fungsi kognitif, bahkan belum termasuk dengan penderita demensia (pikun). Bahkan dapat disertai dengan depresi, gangguan tidur dan gejala kecemasan serta rasa kesepian.

Penelitian belakangan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan usia harapan hidup yang terjadi pada abad ini. Pada jenis kelamin perempuan ditemukan peningkatan sekitar 40 persen (dari usia 58 tahun menjadi 81 tahun), sementara rata-rata usia harapan hidup untuk gabungan dari baik jenis kelamin perempuan dan laki-laki terjadi peningkatan sekitar 50 persen, dari usia 50 menjadi 75 tahun.  Untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat sudah mencapai 74,15 tahun. Disisi lain menurut data BPS Tahun 2021, selama 50 tahun terakhir, persentase penduduk lansia di Indonesia meningkat dari 4,5 persen pada tahun 1971 menjadi sekitar 10,7 persen pada tahun 2020. Angka tersebut diproyeksi akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 19,9 persen pada tahun 2045.

Bagaimana dengan fasilitas kesehatan? Di Indonesia pada era ini layanan kesehatan sudah sangat berkembang pesat. Layanan kesehatan di fasilitas kesehatan Indonesia sudah sangat mengedepankan kebutuhan lansia. Baik di Puskesmas, praktek dokter mandiri maupun Rumah Sakit. Terdapat Poli Lansia, sarana prasarana yang berorientasi kebutuhan lansia seperti fast track (jalur cepat) yang merupakan jalur khusus lansia, kursi tunggu khusus, kursi roda, handrails, toilet khsusus dan lain-lain. Sumber daya manusianya pun mengalami perkembangan ketersediaan dan kemampuan secara spesifik pada para Lansia. Seperti keberadaan dokter Konsultan Geriatri, Keperawatan Gerontik, Fisioterapis dan lain-lain.

Maka akan muncul keadaan dimana para lansia  berjumlah banyak dan mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental. Suatu kondisi yang cukup kompleks di tengah lengkapnya ketersediaan layanan fasilitas kesehatan bagi lansia.

Apa itu Day Care Lansia? Dan mengapa pelayanan paripurna masa depan?

Kalau dari istilah, day care adalah tempat “penitipan” anak. Biasa dipakai bagi layanan untuk anak. Dimana orang tua yang sibuk dan harus bekerja di luar rumah akan “menitipkan” nya pada waktu tertentu. Di sini anak-anak akan dijaga, dirawat, dipenuhi kebutuhannya dalam suasana nyaman dan aman sampai saatnya dijemput oleh orang tuanya.

Jahat sekali lansia dititipkan! Bukan demikian, dalam Day Care Lansia ini akan berbasis layanan kesehatan yang komprehensiv atau terintegrasi. Memang akan diantarkan oleh keluarganya ke lokasi Day Care. Namun lihatlah apa yang bisa didapat dari Layanan Day Care Lansia ini.

Dalam Day Care dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan lengkap sesuai kebutuhan/kondisi lansianya. Pelayanannya terpusat dalam Day Care tersebut. Semua profesional pemberi asuhan akan terlibat dan mendatangi Lansia di area tersebut. Dokter, psikolog, terapis, dietizen, dan lain-lain. Jika butuh laboratorium, rontgen, treadmill maka akan diberikan. Maka kondisi gangguan fisik/ penyakitnya akan menjadi stabil dan terkontrol.

Tidak hanya diperiksa dan diberikan terapi kondisi fisiknya saja, namun juga kesehatan jiwanya. Akan ada terapi dalam bentuk mendengarkan curhat, kegiatan peningkatan kemampuan dasar mandiri harian lansia, konseling, terapi kelompok dengan bernyanyi, berkebun, memasak, Bahkan dapat diajarkan untuk berdaya sebagai lansia melalui terapi vokasional atau okupasi.

Saat mendatangi Day Care Lansia, mereka akan bertemu satu sama lain, sesama pasien lansia, dengan para petugas fasilitas kesehatan, bahkan jika secara rutin, lama kelamaan akan menumbuhkan interaksi sosial yang hangat, hubungan timbal balik, saling mempengaruhi, dan akhirnya memiliki teman.

Bagaimana dengan fasilitas sarana prasarananya? Pastinya butuh gedung besar, sangat rumit dan kompleks. Bisa saja tidak demikian. Konsep layanan ini yang utama adalah terpusat dan terintegrasi. Tersedia ruangan dimana di dalamnya disetting suasana seperti rumah, lengkap dari halaman sampai tempat menjemur pakaian cucian. Maka ketika masuk halaman yang penuh bunga yang mereka tanam, kemudian akan mendaftarkan layanan day care nya, masuk ke ruang tamu ada dokter dan lainnya yang memberikan pelayanan, setelah itu masuk ke ruang makan dilayani makanan bergizi oleh nutrisonis yang makanannya dimasak bersama “teman” dan petugas, lelah mendera dapat beristirahat di ruang tengah yang ada karpet, sofa, televisi, kursi goyang, karaoke dan lain-lain. Terdapat kamar mandi yang ramah lansia. Berganti baju dan mencucinya di mesin cuci dan kemudian menjemurnya. Jika misalnya membutuhkan pemeriksaan CT-Scann maka anggap bermain ke “tetangga” dengan diantarkan petugas dan teman. Bagaimana dengan kebersihan dan kerapian area Day Care tersebut? Sebelum pulang, para lansia akan bersama-sama merapikan dan membersihkannya.

Demikian yang akan dilalui oleh para Lansia tersebut di Day Care. Paripurna sekali. Lansia bahagia, sehat dan mandiri. Keluarga bahagia melihat keadaan tersebut. Sistem Kesehatanpun akan dapat terkendali dengan baik.

Sebuah Harapan

Di Hari Lansia Nasional 29 Mei 2023, Mari kita bersama-sama wujudkan lansia Indonesia yang sehat dan mandiri!(*)

 

 

  Editor : Baiq Farida
#Wiwin Nurhasida #Hari Lansia Nasional #Day Care Lansia