”SK Gubernur NTB sebagai landasan hukum untuk sekolah mengelola BLUD sudah kami terima,” terang Kasman, kepala SMKN 1 Praya, saat ditemui di ruang kerjanya Selasa (9/5).
Sebagai SMK dengan core pariwisata, tentu unit usaha berkaitan erat dengan bidang tersebut. Seperti perhotelan, usaha perjalanan wisata, penyewaan aula SMKN 1 Praya.
Berikutnya, pembuatan seragam kantor atau sekolah yang ditangani Jurusan Tata Busana. Pembuatan makanan ringan dan semacamnya, dari Jurusan Tata Boga dan sejumlah usaha lainnya. ”Kalau sebelumnya, kami tidak bisa secara terbuka menjual hasil produksi siswa karena belum BLUD,” tegas Kasman.
Dirinya bersyukur, SMKN 1 Praya menjadi BLUD. Keuntungan atau pendapatan yang diperoleh sekolah bukan hanya berkutat dari segi materi. Melainkan menjadi nilai plus di kalangan masyarakat. ”Ini menjadi poin penting kami juga di PPDB nanti, mudah-mudahan orang tua melihat bagaimana kami mengelola hasil pembelajaran anak-anak mereka,” kata dia.
Dengan BLUD, peserta didiknya akan semakin terampil. Sebab praktik pembelajaran akan dilakukan secara berkesinambungan. Saat menjalankan aktivitas produksi, mereka juga bisa merasakan gambaran memasuki dunia kerja secara langsung. ”Misalnya anak-anak yang praktik di unit jasa perhotelan, mereka bisa merasakan bagaimana seharusnya menyambut tamu hotel sesuai standar dunia kerja, hospitality dan lain-lain,” jelas kepala sekolah.
Di sisi lain, dengan BLUD, sekolah juga lebih leluasa memperluas jalinan kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Tujuannya, sebagai upaya sekolah agar peserta didik diterima bekerja. ”Ini juga salah satu poin penting mengapa kami berusaha menjadikan SMKN 1 Praya ini sebagai BLUD,” pungkasnya.
Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Dikbud NTB M Khairul Ikhwan menegaskan, SMK BLUD menjadi upaya sekolah untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana. Sekolah diberi kesempatan memanfaatkan dana yang diperoleh dari produksi barang atau jasa layanan. Untuk membeli atau memelihara sarana dan prasarana sekolah, bahkan alat praktikum siswa.
SMK memiliki tenaga terampil, yang dilengkapi peralatan modern dan canggih. Apabila, semua itu hanya dimanfaatkan untuk pembelajaran siswa, maka siswa akan minim pengalaman. ”Anak-anak ini hanya merasakan fase pembelajaran saja, jadi kalau kita bawa ke sistem industri, siswa mendapat pengalaman berulang-ulang, nah pas dia lulus menjadi terampil,” tandasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida