LombokPost- Program Pesantren Ramadan SMPN 19 Mataram tahun ini tampil berbeda. Pesantren Ramadan tidak lagi hanya diisi ceramah satu arah, tetapi mengusung konsep Muzakarah Ramadan yang memberi ruang dialog terbuka bagi siswa. Melalui Pesantren Ramadan, penguatan karakter dan pemahaman ibadah menjadi fokus selama bulan suci.
Kegiatan Pesantren Ramadan digelar selama sepekan sebelum ujian tengah semester. Setiap hari, tiga kelas dari jenjang VII, VIII, dan IX bergantian mengikuti rangkaian kegiatan di musala SMPN 19 Mataram.
Kepala SMPN 19 Mataram Nasruddin menjelaskan, konsep Muzakarah Ramadan menjadi pembeda tahun ini.
“Kami menekankan pada Muzakarah Ramadan. Jadi tidak melulu ceramah satu arah, tetapi siswa bisa menyampaikan keluhan atau pertanyaan seputar ibadah mereka,” ujar Nasruddin.
Dalam sesi Muzakarah Ramadan pada Pesantren Ramadan, siswa tampak antusias. Mereka aktif bertanya tentang tata cara ibadah harian, puasa, zakat, infak, sedekah, hingga persoalan kewanitaan seperti haid bagi siswi. Diskusi dipandu guru berlatar pendidikan agama, termasuk lulusan pondok pesantren.
Rangkaian Pesantren Ramadan diawali salat duha berjamaah, dilanjutkan tadarus Alquran, serta bimbingan bagi siswa yang belum lancar membaca Alquran melalui metode Iqra. Kegiatan ditutup dengan salat Zuhur berjamaah dan pembagian MBG.
Menurut Nasruddin, tingginya partisipasi dalam Pesantren Ramadan tidak lepas dari dukungan orang tua dan lingkungan Dasan Cermen yang religius. Meski padat, agenda Pesantren Ramadan tetap diselaraskan dengan jadwal akademik.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMPN 19 Mataram Baiq Fahriah menegaskan, Pesantren Ramadan menjadi benteng penting di tengah kompleksitas pergaulan remaja.
“Penguatan karakter siswa melalui Pesantren Ramadan ini menjadi harga mati. Kalau sudah takwa, apa pun tantangannya, mereka tetap berada di jalan yang benar,” kata Nasruddin.
Ia menambahkan, usia 14-15 tahun atau siswa kelas VIII dan IX merupakan fase rentan terhadap pengaruh lingkungan. Karena itu, pendekatan dialog interaktif dalam Muzakarah Ramadan dinilai lebih efektif dibanding metode ceramah konvensional.
Pesantren Ramadan juga menekankan kedekatan siswa dengan Alquran. Tidak sekadar membaca, tetapi memahami dan mengimplementasikan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Setelah sepekan pelaksanaan, siswa akan menghadapi ujian tengah semester.
“Dengan konsep Muzakarah Ramadan, Pesantren Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar membentuk karakter religius dan memperkuat ketakwaan siswa di tengah derasnya pengaruh negatif zaman,” pungkas Nasruddin.
Editor : Akbar Sirinawa