Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Syarif Hidayatullah, Owner Pasar Bambu Bonjeruk

nur cahaya • Sabtu, 8 Maret 2025 | 11:00 WIB

 

Syarif Hidayatullah
Syarif Hidayatullah
 

 

Jatuh bangun Syarif Hidayatullah membuka usaha kuliner di Desa Wisata Bonjeruk. Dia kini miliki dua lesehan di desa setempat, Pasar Bambu Bonjeruk dan Warung Bambu 2 Bonjeruk. Salah satu menu andalan khas Desa Bonjeruk adalah ayam merangkat. Menu ini disajikan saat ada pernikahan tradisional suku Sasak di desa tersebut. Namun kini bisa dinikmati semua orang di Pasar Bambu dan Warung Bambu 2 Bonjeruk. Titik Nadir Itu Bernama Gempa dan Pandemi, Andalkan Ayam Merangkat, Menu UtamaPernikahanTradisional Suku Sasak.

Lombok Tengah

GOOGLE maps menunjukkan dengan tepat lokasi Warung Bambu 2 Bonjeruk yang dikirim Syarif Hidayatullah kepada Lombok Post. Beberapa ratus meter dari lesehan pasar Bambu Bonjeruk di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng).

Dayat akrab disapa, adalah pemilik lesehan keduanya. Lesehan ini menjadi spot terakhir para wisatawan mancanegara (wisman) usai berkunjung ke Desa Wisata Bonjeruk. Selain wisman, ada pula pengunjung lokal maupun luar daerah yang hendak menikmati santapan kuliner khas Desa Bonjeruk kala itu.

Tampil sederhana, Dayat mengenakan kaos berwarna hitam dengan celana pendek selutut. Menyambut ramah kedatangan Lombok Post di tengah kondisi lesehan Warung Bambu 2 Bonjeruk dalam tahap renovasi akhir. “Ya seperti inilah kondisi Warung Bambu 2 Bonjeruk yang kami paksa buka pada awal-awal bulan puasa,” selorohnya mengawali pembicaraan, Selasa (5/3).

Warung Bambu 2 Bonjeruk adalah lesehan keduanya setelah Pasar Bambu Bonjeruk yang didirikan sekitar tahun 2017-2018. Memiliki dua lesehan yang menyajikan kuliner khas Desa Bonjeruk tidaklah mudah. Jatuh bangun membangun usaha kuliner tentu dihadapi Dayat, pasca dirinya tidak lagi menjadi fotografer Prokopim Pemda Loteng. “Kurang lebih sekitar 14 tahun jadi fotografer, setelah itu saya lepas karena dipindahkan menjadi staf di Kantor Camat Jonggat, sembari buka usaha kuliner ini,” beber dia.

Pada awal membangun Pasar Bambu Bonjeruk, kata pria asli Bonjeruk ini, dia belumlah fokus menyajikan usaha kuliner. Desa Bonjeruk fokus menghadirkan paket wisata bagi para wisman yang datang berkunjung ke desanya pasca diresmikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga S Uno. “Karena ramai wisman, para inaq-inaq (ibu, Red) di sini berjualan jajanan pasar lokal seperti lupis, serabi dan sebagainya, lokasinya di Pasar Bambu tersebut. Seiring berjalannya waktu kenapa tidak hadirkan lesehan atau tempat makan bagi wisatawan,” terangnya.

Dengan hadirnya lesehan Pasar Bambu Bonjeruk diharapkan dapat mendorong perekonomian masyarakat, membuka lapangan pekerjaan. “Segala sumber bahan kuliner ini kita ambil dari hasil pertanian, peternakan milik warga, dan tenaga kerjanya adalah para pemuda pemudi asli Desa Bonjeruk,” beber Dayat.

Roda pun berputar. Tidak selamanya berada di atas, usaha kuliner yang dilakoni sempat terpuruk. Puluhan wisman kapal pesiar yang hendak berkunjung ke Lombok dan menyantap kuliner di Pasar Bambu Bonjeruk terpaksa batal. Diakibatkan musibah gempa Lombok Juli 2018 lalu.

Disaat mencoba bangkit kembali dengan pulihnya kondisi Lombok pasca gempa, lagi-lagi terkena musibah pandemi. Kondisi inilah yang sempat membuat posisinya kembali terperosok. “Pasca gempa kita bangun lagi konsep sedari awal, eh dihadapkan Covid-19,” kata dia menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara kebutuhan hidup terus berjalan, dirinya bersama pokdarwis berinisiatif bangkit kembali. Caranya dengan menjual secara daring (dalam jaringan) paket kuliner ayam merangkat khas Desa Bonjeruk setelah sukses mempromosikan dari mulut ke mulut. Hingga kini, dia bertekad terus bertahan.

Nampan dari anyaman bambu di junjung seorang wanita berpakaian adat lambung Suku Sasak. Walau tertutup tudung saji tradisional berwarna merah, bisa ditebak isi dalam nampan adalah ayam merangkat. Menu andalan khas Desa Bonjeruk yang disajikan di Pasar Bambu maupun Warung Bambu 2 Bonjeruk milik Syarif Hidayatullah.

Ayam merangkat ini bisa dibilang sangat mirip dengan ayam bakar pada umumnya. Namun, setelah dicicipi, Ayam Merangkat memiliki rasa serta tekstur tersendiri yang luar biasa nikmat. Ayam Merangkat memiliki cita rasa pedas dan kaya akan bumbu rempah-rempah yang berlimpah.

Dayat akrab disapa menuturkan, kunci dari kenikmatan ayam merangkat terletak pada bahan baku utamanya. Ayam Merangkat menggunakan ayam kampung, dan disajikan dengan cara disuwir kasar agar bumbu yang diaplikasikan dapat terserap merata.

Ayam merangkat yang banderol Rp 135 ribu ini juga disuguhkan bersama beberapa menu lain. Mulai dari sayur daun kelor dan jagung manis, beberuk terong, tempe goreng, dendeng,ayam goreng asam, hingga ikan nila. Menariknya, menu pendamping yang disajikan turut memiliki cita rasa pedas layaknya ayam merangkat.

Menilik kisah ayam merangkat, Dayat mengaku, kuliner satu ini sejatinya hanya dapat ditemui bila ada salah satu warga yang melaksanakan pernikahan. Namun, bukan sembarang pernikahan, melainkan pernikahan yang dilakukan menggunakan adat tradisional Suku Sasak yang bernama merariq.

Tradisi merariq sudah ada sejak lama dan diturunkan dari generasi ke generasi. Tradisi merariq merupakan bukti keseriusan pihak mempelai pria kepada sang calon mempelai wanita.

“Merariq atau melarikan sang calon mempelai wanita dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Biasanya kedua sejoli ini akan berjanjian di hari dan waktu yang sudah ditentukan. Nantinya, keluarga dari mempelai pria akan datang menjemput sang pujaan hati di kediamannya dan membawa kabur calon mempelai wanita tersebut selama tiga hari,” beber Dayat.

Setelah melarikan calon mempelai wanita, tokoh masyarakat setempat akan mempertemukan kedua keluarga secara resmi untuk membicarakan persiapan pernikahan. Kalau kedua keluarga sudah bertemu dan sepakat ke jenjang pernikahan, kata Dayat, maka ada acara makan-makan yang dihadiri oleh masyarakat sekitar.

“Pada momen ini, barulah ayam merangkat disajikan untuk dikonsumsi bersama-sama. Kenapa rasanya pedas, karena yang makan ayam merangkat sangat banyak bisa mencapai empat kampung,” tutup dia. (LESTARI DEWI/r6)

Editor : Akbar Sirinawa
#renovasi #lesehan #desa #pembicaraan #usaha #Kuliner #santapan #warung #pasar #Bonjeruk #rasa #bambu