Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Seledri Sembalun Anjlok

S
Penulis: Supardi/Bapak Qila❯

Petani Sembalun memanen sayur seledri di lahan pertanian miliknya.
Petani Sembalun memanen sayur seledri di lahan pertanian miliknya.


Advertisement

LombokPost - Pasca Hari Raya Idul Fitri, harga sayur di Sembalun, terutama seledri, semakin anjlok dibandingkan beberapa minggu lalu saat Ramadan. Saat ini harga seledri Rp 7 ribu per kilogram.

"Sehari setelah lebaran harganya langsung terjun bebas. Kalau awal puasa itu harganya Rp40 ribu-Rp 45 per kilogram. Kemudian pertengahan puasa turun lagi ke Rp18 ribu, dan sekarang Rp 7.000," terang salah seorang petani seledri Sembalun, Gita, ditemui Lombok Post di lahan miliknya, Kamis (26/3).

Kata dia, anjloknya harga seledri ini seiring membaiknya kondisi cuaca dan semakin banyak petani yang panen. Saat cuaca buruk, harga seledri biasanya melonjak karena jarangnya penanaman dan banyak tanaman petani yang rusak.

Selain itu, cuaca buruk juga mengakibatkan waktu panen kerap mundur. Jika cuaca normal, sayur seledri biasanya dipanen satu bulan setelah tanam. Namun kondisi cuaca buruk membuat masa panen hingga dua bulan.

"Untuk penjualan kita punya pengepul masing-masing. Hari ini saya panen perdana. Kalau cuaca normal kita bisa panen dalam jangka waktu satu bulan, “jelasnya.

Advertisement

Disebutkan, dengan harga saat ini keuntungan yang didapat petani sangat tipis. Mengingat tanaman seledri membutuhkan perawatan ekstra dibandingkan sayuran lain, seperti selada dan wortel. Setiap selesai panen, tanaman seledri harus disemprot dan dipupuk kembali.

Masa produksi seledri ini bisa hingga satu tahun lebih jika kondisi cuaca tetap stabil. Namun jika kondisi cuaca tidak menentu, hanya bertahan 6-7 bulan. Ia berharap pada panen berikutnya harga kembali meningkat.

“Panen kami lakukan setiap 10 hari sekali. Setelah panen kami melakukan penyemrotan lagi,” katanya.

Selain seledri, sayuran yang juga kembali turun drastis saat ini adalah wortel. Di mana harga wortel hanya Rp 1.500 per kilogram, yang sebelumnya berkisar antara Rp3.000 hingga Rp 3.500 per kilogram.

"Wortel kemarin sempat naik, sekarang turun lagi. Memang Pertanian seperti ini, saat harga mahal, tanaman kita yang rusak. Saat tanaman bagus harga yang anjlok," tutupnya. 

Advertisement
Editor : Marthadi
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kemarau Panjang, Hasil Panen Sayur Sembalun Tidak Maksimal

Kemarau Panjang, Hasil Panen Sayur Sembalun Tidak Maksimal

Musim kemarau tahun ini membuat hasil panen tanaman sayur petani di daerah Sembalun menjadi tidak maksimal. Karena minimnya pasokan air

Kisah Nursihan, Perajin Keranjang Bambu di Desa Lando

Kisah Nursihan, Perajin Keranjang Bambu di Desa Lando

Selain di Desa Loyok, Desa Lando juga menjadi salah satu pusat kerajinan bambu di Lotim khususnya kerajinan keranjang bambu buah dan sayur.

Melihat Budi Daya Labu Siam di Desa Timba Nuh, Tak Membutuhkan Banyak Perawatan, Jadi Salah Satu Penggerak Ekonomi Masyarakat

Melihat Budi Daya Labu Siam di Desa Timba Nuh, Tak Membutuhkan Banyak Perawatan, Jadi Salah Satu Penggerak Ekonomi Masyarakat

Di antara alpukat, durian, rambutan, dan kopi yang memenuhi kebun warga Desa Timba Nuh, labu siam tumbuh menjalar di atas para-para. Buahnya

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer