Lombokpost-Dinas Pertanian Lombok Timur (Lotim) meminta petani memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produksi pangan di tengah musim kemarau.
"Sesuai ramalan BMKG kemarau terjadi pada April dan puncaknya Agustus. Terkait program ketahanan pangan, menuju swasembada pangan berkelanjutan, tetap kita akan pacu meskipun kondisi kemarau," terang Kepala Dinas Pertanian Lotim Lalu Fathul Kasturi, Jumat (27/3).
Disebut, tantangan terbesar pada musim kemarau adalah ketersediaan air.
Terlebih kemarau diprediksi berlangsung cukup ekstrem. Untuk menjaga stabilitas produksi pangan menuju swasembada berkelanjutan, pihaknya menyiapkan sejumlah strategi.
Langkah yang disiapkan di antaranya, pemetaan sumber air yang cukup untuk budi daya padi dan jagung. Pemerintah saat ini fokus pada swasembada pangan berkelanjutan untuk padi dan jagung. Di samping itu, merencanakan swasembada lain untuk membatasi impor.
"Pemerintah pusat melalui pemerintah daerah, sekarang ini juga membuat banyak program untuk memaksimalkan sumber-sumber air, termasuk irigasi perpompaan, irigasi perpipaan dan dam parit," katanya.
Keberadaan program ini dinilai dapat mengatasi kekurangan air pada lahan yang biasanya cukup air. Program ini juga dapat mengoptimalkan lahan kering di sejumlah wilayah di Lotim.
Program unggulan yang digenjot untuk meningkatkan produksi di tengah musim kemarau adalah optimalisasi lahan kering. Program ini bertujuan meningkatkan daya saing lahan kering yang selama ini hanya ditanami satu kali dalam setahun.
"Di tahun 2026 ini kita mendapatkan alokasi anggaran optimalisasi lahan kering seluas 140 hektare, tersebar di Kecamatan Suralaga, Pringgabaya, Sambelia, Jerowaru," katanya.
Program tersebut saat ini masih dalam tahap penyusunan calon petani calon lokasi (CPCL). Jika desain yang diajukan ke pusat dinyatakan layak, maka eksekusi program segera dilakukan.
Jika program ini berhasil, ia meyakini swasembada pangan, terutama padi dan jagung di Lotim terus terwujud. Ia menilai hasil produksi padi di Lotim cukup tinggi.
“Hasil produksi padi kita saat ini di lahan subur itu 7-8 ton per hektare. Dan ini dari tahun-tahun sebelumnya tetap stabil seperti ini,” jelasnya.
Editor : Kimda Farida