LombokPost - Begasingan adalah salah satu permainan tradisional yang masih sering dijumpai saat ini. Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur menjadi dua daerah yang rutin menggelar pertandingan begasingan.
Di Lombok Utara, pertandingan gasing dapat dijumpai di Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Agus Susanto, pengurus Sanggar Rumah Budaya Kembang Rampe Samira mengatakan, even gasing di desanya mengunakan gasing bulet. Jenis gasing inilah khas Lombok Utara.
Pria yang akrab disapa Antok ini bercerita, meski tanpa even resmi, komunitas gasing di desanya tetap aktif. Tiap dusun memiliki kelompoknya, saling mengundang untuk sparing, menjaga denyut tradisi tetap berputar.
Dia mengaku, even permainan tradisional ini biasanya dilaksanakan oleh sanggar bekerja sama dengan pemerintah desa setempat. Anak-anak hingga orang dewasa ikut berkompetisi.
Kini, jumlah klub gasing diperkirakan mencapai 50-an di seluruh kabupaten. Dalam setiap even, pesertanya datang dari berbagai kecamatan. Mulai Kecamatan Pemenang, Tanjung, hingga Bayan. “Ibu-ibu pun ramai jualan setiap kali pertandingan,” ujar Antok.
Aturan pertandingan pun sudah baku. Gasing maksimal berbobot 1 kilogram, tinggi 90 sentimeter, dan diameter 33 sentimeter. Pemenang ditentukan dari gasing yang paling lama berputar.
Antok mengapresiasi perhatian Pemda Lombok Utara dalam melestarikan permainan tradisional. Komitmen ini ditunjukkan dengan memasukkan gasing sebagai olahraga rekreasi. Perhatian pemerintah daerah juga bagus. Harapannya pemda rutin mengadakan lomba," tutupnya.
Belum lama ini, even serupa digelar oleh pemuda Desa Gondang, Kecamatan Gangga di lapangan umum desa setempat. Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri menegaskan pentingnya melestarikan permainan tradisional. “Gasing merupakan identitas budaya Lombok Utara yang harus dipertahankan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi pihak-pihak yang peduli dan mau menghidupkan kembali tradisi lokal di tengah derasnya arus modernisasi. “Turnamen gasing ini bukti bahwa budaya kita tidak akan pernah mati. Selama ada generasi yang mau menjaga, tradisi akan tetap hidup,” katanya.
Sementara di Lombok Timur, komunitas begasingan masih eksis di Lingkungan Batu Mulut, Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong. Namun berbeda dengan Lombok Utara, komunitas di Lombok Timur belum dapat dukungan pemda.
"Kita ingin ada perhatian dari pemerintah, karena begasingan ini juga termasuk budaya, permainan tradisional yang harus kita lestarikan," terang Ketua Panitia Batu Mulut cup V, Jumat (12/12).
Selain itu, permainan begasingan ini juga diharapkan menjadi event tahunan kabupaten, yang akan berdampak terhadap pariwisata. Dengan membuatkan arena khusus untuk bermain gasing.
Miq Iwan panggilan akrabnya menyampaikan bahwa komunitas begasingan Batu Mulut hampir setiap tahun, bahkan dua kali setahun secara rutin mengadakan turnamen begasingan se-pulau Lombok.
"Event ini kami buat secara mandiri oleh komunitas begasingan Batu Mulut. Kita tidak ada support dari pemerintah, semuanya kita lakukan secara mandiri," bebernya.
Kata dia, lomba begasingan biasanya dilakukan pada bulan Juni-Juli, bahkan dijadikan sebagai perayaan Agustusan. Yang diikuti oleh puluhan komunitas Begasingan se pulau Lombok. Antusiasme peserta dalam begasingan tidak pernah surut.
Penyelenggaraan turnamen begasingan ini bukan hanya sebatas untuk menyalurkan hobi. Namun turnamen ini sekaligus dalam rangka menjaga budaya agar tetap eksis di tengah masyarakat.
"Ini salah satu cara kita menjaga budaya begasingan. Makanya kami selalu rutin mengadakan turnamen. Komunitas Begasingan di Lotim saja mencapai 50, belum di Luar Lotim," katanya.
Multiplier Effect
Pusat pembuatan gasing di Lombok Timur ada di Desa Masbagik. Namun batu mulut menjadi satu-satunya lingkungan yang rutin mengadakan turnamen begasingan. Peminat gasing belakangan ini kembali rame, bahkan anak-anak sudah mulai tertarik untuk kembali memainkan gasing.
Meskipun kata dia, gasing yang dipakai anak-anak saat ini sudah tidak lagi menggunakan gasing model dulu. Termasuk jalannya permainan akan dipimpin oleh wasit.
"Kalau permainan gasing ini pakai wasit, kalau anak-anak dulu mereka pakai gasing kayu kemudian tidak pakai wasit, dan juga punya waktu," terangnya.
Selain itu, dalam bermain gasing pemain wajib menggunakan baju adat Lombok. Jika tidak menggunakan baju adat maka nilainya akan kurang. Bahkan klub yang tidak menggunakan seragam tidak bisa bermain.
Kata dia, dari sisi ekonomi permainan ini sangat berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Terutama para pembuat gasing. Karena satu gasing dibeli dengan harga Rp 1,5-2,5 juta. Termasuk dapat meningkatkan perekonomian pedagang-pedagang kecil di sekitar arena begasingan.
" Itulah kenapa kami berharap gasing ini bisa dibuatkan arena, supaya ini bisa menjadi event rutin yang kita lakukan seperti budaya Peresean. Kami yakin jika ini menjadi event tahunan, akan banyak memberikan dampak, terutama dari sisi pariwisata dan ekonomi masyarakat," tutupnya. (bib/par/r3)
Editor : Prihadi Zoldic