Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

“Dewasalah Bro!” Scholes dan Nicky Butt Tegur Lisandro Martinez

Ivan Mardiansyah • Rabu, 21 Januari 2026 | 00:40 WIB

Nicky Butt dan Paul Scholes menegur Lisandro Martinez soal respons emosionalnya. Di Manchester United, kedewasaan adalah syarat utama.
Nicky Butt dan Paul Scholes menegur Lisandro Martinez soal respons emosionalnya. Di Manchester United, kedewasaan adalah syarat utama.

Lombok Post — Respons keras datang dari dua legenda Manchester United, Nicky Butt dan Paul Scholes, menyusul aksi Lisandro Martinez yang ramai diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir.

Dalam podcast The Good, The Bad and The Football, keduanya menilai sikap Martinez yang menanggapi kritik dengan tantangan terbuka menunjukkan kurangnya kedewasaan—sesuatu yang, menurut mereka, tak bisa ditoleransi di klub sebesar Manchester United.

Nicky Butt menyebut situasi tersebut tak lebih dari candaan khas obrolan ringan. Namun masalah muncul ketika respons Lisandro Martinez dianggap berlebihan.

“Bagi saya ini seperti anak muda di pub yang sedang mengobrol. Itu hanya candaan,” kata Butt.

Ia menambahkan, jika seorang pemain sampai tersulut emosi oleh komentar media atau podcast lalu menyuruh orang datang ke rumahnya, maka sikap dewasa seharusnya menjadi pilihan utama.

Menurut Butt, kritik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Old Trafford. Siapa pun yang bermain untuk Manchester United harus siap menerima sorotan tajam sepanjang kariernya.

“Jika kamu begitu emosional karena komentar seperti itu, kamu seharusnya tidak berada di klub besar. Di Manchester United, kamu akan menerima hal itu sepanjang karier,” tegasnya.

Ia bahkan menyindir keras respons yang dinilai berlebihan. “Saya sudah 50 tahun, saya tidak akan mendatangi rumah seseorang sambil bilang ‘bolehkah kita ngobrol?’ Itu konyol.

Kalau kamu mau sejauh itu, maka kamu harus tampil luar biasa setiap minggu.”

Baca Juga: Usai Amorim, Kekacauan Berlanjut: Allardyce Sebut Pelatih ini Punya “Sihir” Selamatkan Manchester United

Nada serupa juga disampaikan Paul Scholes, yang mengakui performa Lisandro Martinez di laga terakhir memang impresif, namun menegaskan bahwa satu pertandingan bagus tidak cukup untuk menjawab kritik.

Scholes mengatakan ia belum mengubah pandangannya terhadap Martinez, meski menghargai kontribusi sang bek Argentina. “

Dia bilang sudah kehilangan rasa hormat pada saya. Seperti yang Nicky katakan, kamu berada di Manchester United—mungkin klub terbesar di dunia,” ujar Scholes.

Bagi Scholes, kritik adalah bagian dari proses yang dulu juga mereka alami sebagai pemain Manchester United.

“Kritik itu pasti datang. Kami mengalaminya sebagai pemain, dan kamu harus terbiasa,” lanjutnya. Ia menekankan bahwa konsistensi adalah standar utama di klub sebesar Manchester United, bukan performa sesaat.

“Apa yang dia lakukan hari Sabtu memang brilian. Tapi kamu harus melakukannya secara konsisten untuk menunjukkan bahwa kamu bisa memenangkan liga.”

Dengan laga besar melawan Arsenal di depan mata, pesan dari Scholes dan Nicky Butt terasa semakin tegas.

Di Manchester United, kedewasaan, konsistensi, dan kemampuan menerima kritik adalah syarat mutlak.

Satu pertandingan hebat tak pernah cukup, dan satu respons emosional bisa menjadi sorotan panjang di klub dengan sejarah dan ekspektasi sebesar Manchester United.

Baca Juga: Ronaldo Isyaratkan Akuisisi Manchester United di Masa Depan

Editor : Redaksi Lombok Post
#old trafford #nicky butt #paul scholes #Lisandro Martinez #setan merah #manchester united