Meninggalnya Michael Bambang Hartono menandai berakhirnya perjalanan panjang sosok yang dikenal sebagai arsitek di balik kesuksesan raksasa industri rokok, Grup Djarum, serta pemegang kendali Bank Central Asia (BCA).
Kabar duka ini telah dikonfirmasi oleh Corporate Communication Manager PT Djarum, Budi Darmawan. Melalui keterangan resminya, pihak manajemen menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam.
"Keluarga Besar PT Djarum berdukacita atas wafatnya Pak Michael Bambang Hartono, Kamis 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura," ujar Budi Darmawan.
Selain dari dalam negeri ucapan dukacita juga mengalir dari negeri Pizza Italia. Klub Serie A yang Tengah naik daun Como menyampaikan dukacita mendalam atas berpulangnya sosok yang diketahui sebagai pemegang saham mayoritas Como.
Baca Juga: Real Madrid Jajaki Peluang Rebut Cesc Fabregas dari Como untuk Gantikan Alvaro Arbeloa
“Como 1907 sangat berduka atas meninggalnya Michael Bambang Hartono. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga Hartono dan seluruh jajaran Djarum Group. Di bawah kepemimpinan keluarga, Klub telah memasuki babak baru dalam sejarahnya, dan kami mengenang beliau dengan rasa syukur dan hormat,”ujar manajemen klub melalui unggahan di akun X.
Unggahan ini ditanggapi dengan ucapan dukacita oleh akun Juventus dan mantan Bintang Madrid Rafhael Varane.
Jejak Karier dan Modernisasi Djarum
Lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939 dengan nama Oei Hwie Siang, Michael merupakan putra sulung dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum. Bersama adiknya, Robert Budi Hartono, ia memegang tongkat estafet bisnis keluarga setelah sang ayah wafat.
Lulusan Universitas Diponegoro (1959–1963) ini memulai karier sebagai Direktur PT Djarum saat perusahaan berada di titik nadir akibat kebakaran hebat tahun 1963. Di bawah kepemimpinannya, Djarum bangkit melalui modernisasi produksi dan ekspansi pasar hingga menembus pasar ekspor pada awal 1970-an.
Baca Juga: Arsenal Siap Tebus Jesus Rodriguez dari Como Senilai Rp 800 Miliar
Gurita Bisnis: Dari Perbankan hingga Teknologi
Transformasi bisnis keluarga Hartono mencapai puncaknya melalui PT Dwimuria Investama Andalan, di mana mereka menjadi pemegang saham pengendali Bank Central Asia (BCA/BBCA). Selain perbankan, gurita bisnisnya merambah sektor telekomunikasi melalui Sarana Menara Nusantara (TOWR) dan sektor elektronik lewat merek Polytron (PT Hartono Istana Teknologi).
Hingga awal 2026, Forbes mencatat kekayaan Michael mencapai 19,7 miliar dollar AS atau setara Rp 306,23 triliun. Angka ini menempatkannya secara konsisten di jajaran teratas orang terkaya di Indonesia.
Editor : Redaksi Lombok Post