LombokPost - Badan Otoritas Sepak Bola Tertinggi Dunia (FIFA) bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) resmi merilis serangkaian aturan baru Piala Dunia 2026. Regulasi revolusioner ini sengaja diterbitkan untuk memotong taktik mengulur waktu (timewasting) sekaligus memberikan perluasan kekuasaan yang signifikan bagi teknologi Video Assistant Referee (VAR).
Menariknya, paket regulasi FIFA IFAB ini diumumkan setelah selesainya rapat tahunan internal dan langsung dinyatakan berlaku di seluruh pertandingan resmi di bawah naungan FIFA. Efek kejut dari kebijakan anyar ini bahkan langsung memakan korban pertamanya, yakni Timnas Islandia, saat melakoni laga uji coba internasional melawan Jepang akhir pekan kemarin.
Secara garis besar, implementasi aturan baru Piala Dunia 2026 ini akan mengubah banyak kebiasaan aktor lapangan hijau, mulai dari pembatasan durasi eksekusi bola mati (set piece) hingga intervensi VAR yang kini berhak meninjau ulang keputusan tendangan sudut atau korner di perhelatan Piala Dunia 2026 nanti.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Tanpa Striker Klasik, Begini Taktik Julian Nagelsmann di Timnas Jerman
Dalam draf pembaruan dokumen resmi tersebut, sistem VAR Piala Dunia 2026 kini memiliki otoritas baru untuk memeriksa apakah keputusan wasit memberikan tendangan sudut sudah tepat atau keliru. Aturan ini hanya berlaku spesifik untuk sepak pojok, sementara untuk keputusan mutlak tendangan gawang tetap tidak akan diganggu gugat oleh tim VAR.
Kendati demikian, wasit video hanya diizinkan mengoreksi jika proses peninjauan tayangan ulang bisa dilakukan secara cepat dan tepat waktu. Jika proses analisis gambar memakan durasi terlalu lama hingga berpotensi menunda jalannya pertandingan, maka kru VAR Piala Dunia 2026 dilarang keras untuk melakukan intervensi lapangan.
Selain urusan sepak pojok, sistem VAR Piala Dunia 2026 juga diberikan wewenang penuh untuk meninjau keabsahan kartu kuning kedua yang berujung pada hukuman kartu merah. Namun perlu digarisbawahi, wasit video tidak akan melayani peninjauan ulang untuk kartu kuning pertama atau potensi pelanggaran ringan yang tidak berbuah kartu merah demi menjaga intensitas laga di Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Manchester City Jadi Klub Penyumbang Pemain Terbanyak di Dunia
Langkah paling ekstrem dalam penerapan aturan baru Piala Dunia 2026 ini adalah adanya pembatasan waktu krusial demi memberangus trik kotor mengulur waktu. Berdasarkan aturan gila ini, para pemain kini hanya memiliki waktu maksimal selama 5 detik saja untuk mengeksekusi lemparan ke dalam serta tendangan gawang. Countdown waktu digital ini nantinya akan ditampilkan secara visual di layar stadion Piala Dunia 2026.
Jika ada tim yang kedapatan sengaja mengulur waktu melebihi batas 5 detik, sanksi tegas menanti. Hak lemparan ke dalam akan langsung dialihkan secara cuma-cuma kepada tim lawan. Sementara jika pelanggaran terjadi pada momen tendangan gawang, statusnya otomatis akan berubah menjadi hadiah tendangan sudut bagi tim musuh. Pemain hanya dibebaskan dari hukuman jika keterlambatan terjadi akibat faktor eksternal, seperti bola yang tersangkut di tribun penonton.
Tak kalah sadis, pembatasan waktu ketat di era Piala Dunia 2026 juga menyasar proses pergantian pemain. Pemain yang ditarik keluar lapangan wajib meninggalkan lapangan hijau melalui garis tepi terdekat dalam durasi maksimal 10 detik. Jika melanggar, pemain pengganti dilarang masuk ke lapangan dan dipaksa menunggu alias "dikurung" di pinggir lapangan selama 1 menit penuh.
Petaka akibat aturan baru ini langsung dirasakan Islandia saat bersua Jepang di Tokyo. Akibat pemain yang diganti lambat keluar melewati batas 10 detik, sang pengganti Isak Thorvaldsson dihukum tidak boleh masuk selama 1 menit. Apesnya, dalam durasi 1 menit bermain dengan 10 orang tersebut, pertahanan Islandia goyah dan Jepang sukses mencetak gol tunggal kemenangan.
Baca Juga: Mikel Arteta Cuci Gudang, Christian Norgaard Masuk Daftar Jual Arsenal di Bursa Transfer
Pembaruan regulasi FIFA IFAB ini juga memuat klausul anti-simulasi cedera. Pemain yang mendapat perawatan medis oleh fisioterapis di luar lapangan, kini diwajibkan tetap berada di luar garis lapangan selama minimal 1 menit sebelum diizinkan kembali bermain. Pengecualian aturan ini hanya berlaku untuk penjaga gawang, cedera kepala berat, benturan sesama pemain, atau sang pemain berstatus sebagai eksekutor penalti.
Di samping itu, FIFA juga melarang keras adanya fenomena tactical time-out terselubung. Mulai perhelatan Piala Dunia 2026, para pemain dilarang memanfaatkan momentum jeda penanganan cedera kiper untuk berkerumun di sekitar technical area guna menerima instruksi taktis atau wejangan dari pelatih kepala.
Ketua Komisi Wasit FIFA Pierluigi Collina, menjelaskan kepada awak media bahwa dalam pertemuan pra-turnamen bersama 48 pelatih kepala kontestan Piala Dunia 2026, memang belum tercapai kesepakatan bulat mengenai sanksi kartu untuk pelanggaran time-out taktis ini. Namun, Collina menegaskan para pengadil lapangan tetap diinstruksikan untuk membubarkan kerumunan tersebut secara persuasif.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Kabar Buruk! Neymar Cedera dan Terancam Absen Bela Timnas Brasil
Terakhir, demi menjaga nilai sportivitas di lapangan, FIFA juga memastikan akan memberlakukan aturan tegas berupa larangan bagi para pemain untuk menutup mulut dengan tangan saat terlibat konfrontasi atau adu mulut di lapangan.
Aturan ini diadopsi pasca-insiden rasialisme yang melibatkan pemain Benfica Gianluca Prestianni terhadap bintang Real Madrid, Vinicius Junior, beberapa waktu lalu. Seluruh perangkat ketat ini dipastikan bakal membuat tensi laga di Piala Dunia 2026 berjalan jauh lebih bersih dan kompetitif.
Editor : Pujo Nugroho