Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), bekerja sama dengan KBRI Teheran dan KBRI Amman, menyiapkan evakuasi WNI lewat jalur darat karena jalur udara tidak bisa digunakan.
“Pesawat tidak bisa ke sana, satu-satunya jalur darat,” tegas Menteri Luar Negeri Sugiono saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Rusia, kemarin (19/6).
Baca Juga: Pesawat Kiamat Muncul di Washington! E-4B Nightwatch Kawal Trump Hadapi Ancaman Nuklir Iran
Langkah evakuasi WNI di Iran dan Israel itu melibatkan koordinasi antar kementerian, TNI, dan perwakilan Indonesia di luar negeri. Jalur darat menjadi opsi utama karena keterbatasan akses penerbangan di wilayah konflik.
Menurut Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, proses pendataan masih berlangsung.
“Kita sedang melakukan pendataan jumlah warga negara kita yang ingin ikut proses evakuasi. Besok (hari ini), kami update jumlah WNI yang ikut evakuasi karena jumlahnya masih bergerak terus,” paparnya.
Baca Juga: Biaya Logistik Berpotensi Naik 200 Persen, Dampak Konflik Israel-Iran
Saat ini tercatat ada 386 WNI di Iran, mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa di Kota Qom. Mereka menjadi prioritas evakuasi karena berada cukup dekat dengan titik-titik eskalasi konflik.
Sementara itu, di Israel terdapat 194 WNI, sebagian besar peserta magang sektor pertanian yang tersebar di Kota Arafat, wilayah selatan Israel. Dari jumlah itu, 11 WNI sudah mengajukan evakuasi, dan angka ini diprediksi akan bertambah.
Evakuasi WNI di Iran dan Israel tidak hanya menjadi tantangan logistik, tetapi juga keamanan. Pemerintah memastikan proses ini dilakukan secara terencana dan cepat demi keselamatan seluruh warga negara.
WNI terjebak di Iran dan Israel terus dipantau Kemenlu, dan proses penarikan akan dilaksanakan bertahap mengikuti perkembangan situasi di lapangan.
Editor : Redaksi Lombok Post