LombokPost--Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, secara tegas menyatakan penolakan Beijing terhadap tindakan Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Dalam pernyataan pertamanya sejak penangkapan dramatis tersebut, Wang Yi menegaskan bahwa Cina tidak menerima klaim negara mana pun untuk bertindak sebagai "hakim dunia".
Pernyataan Tegas Diplomasi Cina
Wang Yi menyampaikan kritiknya saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, di Beijing pada hari Minggu (5/1/2026).
Ia menyebut "perkembangan mendadak di Venezuela" tanpa menyebut AS secara langsung.
"Kami tidak pernah percaya bahwa negara mana pun boleh bertindak sebagai polisi dunia, dan kami juga tidak menerima klaim bangsa mana pun sebagai hakim dunia," ujar diplomat tertinggi Cina itu, seperti dikutip dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri Cina.
Ia menambahkan, kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya di bawah hukum internasional.
Baca Juga: Puskesmas Sikur Bakal Jadi Rumah Sakit, Kantor Camat Bakal Digusur
Pernyataan ini menandai posisi resmi Beijing pertama sejak beredarnya gambar Maduro yang diborgol dan ditutup matanya.
Ujian Bagi Kemitraan Strategis Cina-Venezuela
Intervensi AS ini menjadi ujian berat bagi kemitraan strategis komprehensif "sepanjang cuaca" yang diteken Beijing dan Caracas pada 2023.
Seorang pejabat pemerintah Cina yang mengetahui pertemuan antara Maduro dengan utusan khusus Cina untuk urusan Amerika Latin, Qiu Xiaoqi, menyebut penangkapan ini sebagai "pukulan besar" bagi Cina.
"Kami ingin terlihat sebagai teman yang dapat diandalkan untuk Venezuela," kata pejabat tersebut, yang enggan disebutkan namanya.
Kepentingan Ekonomi dan Diplomasi Global
Cina, sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, telah menjadi penopang ekonomi vital bagi Venezuela sejak AS dan sekutunya memperketat sanksi pada 2017.
Data bea cukai terbaru menunjukkan, pada 2024, Cina membeli barang senilai sekitar $1,6 miliar dari Venezuela, dengan hampir setengahnya berupa minyak mentah.
Sementara itu, ambisi diplomasi global Beijing semakin nyata setelah keberhasilan mereka mendamaikan Arab Saudi dan Iran pada 2023.
Analis menilai, kepercayaan diri Cina dalam berdiplomasi semakin menguat setelah berhasil berhadapan setara dengan AS dalam berbagai negosiasi perdagangan.
Dengan Maduro kini berada di pusat detensi New York menunggu persidangan, dunia menyaksikan pertarungan pengaruh baru antara AS dan Cina di kancah geopolitik global, khususnya di Amerika Latin.
Baca Juga: Ini Syarat Lengkap dan Cara Daftar Resmi CPNS 2026 yang Wajib Diketahui
Respons Cina ini mempertegas komitmen mereka untuk memainkan peran konstruktif dalam isu-isu hotspot global, sekaligus membela prinsip kedaulatan yang menjadi fondasi kebijakan luar negeri mereka.
Editor : Kimda Farida