Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Nuklir ke Kehancuran, Strategi Trump Dinilai Ngawur!

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 3 April 2026 | 08:04 WIB
Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump

 

LombokPost - Pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang Iran menuai kritik tajam karena dinilai tidak memberikan kejelasan arah maupun tujuan strategis konflik yang tengah berlangsung.

 

“Dia tidak bisa memberikan satu alasan koheren pun mengapa perang ini harus terus dilanjutkan,” tulis analis HAM sekaligus mantan Direktur Human Rights Watch, Kenneth Roth, seperti dikutip Jumat (3/4).

 

Dalam pidatonya, Trump berulang kali menegaskan tujuan lama: mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Namun kritik muncul karena Iran sebelumnya telah menyatakan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam kesepakatan internasional.

 

Roth menyoroti kontradiksi ini.

“Jika itu satu-satunya tujuan, maka seluruh perang ini menjadi tidak perlu,” tulisnya.

Baca Juga: Krisis Energi Global, 40 Negara Tanpa AS Tekan Iran Buka Hormuz!

Ia juga menyinggung keputusan Trump membatalkan kesepakatan nuklir era Barack Obama. Kesepakatan tersebut sebelumnya membatasi pengayaan uranium Iran dan membuka inspeksi internasional.

 

Setelah kesepakatan itu runtuh, Iran justru meningkatkan pengayaan uranium hingga mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk senjata.

 

Ironisnya, dalam pidato terbarunya, Trump tidak lagi menyinggung isu pengayaan uranium secara rinci—padahal itu menjadi inti persoalan sebelumnya.

 

Trump justru menekankan kehancuran militer Iran.

Ia mengklaim angkatan laut Iran “hancur”, angkatan udara “lumpuh”, serta fasilitas produksi dan peluncur rudal “dihancurkan”.

 

Namun pertanyaan mendasar tetap mengemuka: apa tujuan akhir dari kehancuran tersebut?

Baca Juga: Presiden Masjid Ditangkap di AS, Padahal Tak Ada Catatan Kriminal

Trump bahkan mengancam akan “mengembalikan Iran ke zaman batu”.

Menurut Roth, pernyataan ini semakin menunjukkan absennya tujuan strategis yang jelas.

 

Di sisi lain, konflik juga berdampak luas terhadap ekonomi global, terutama lonjakan harga energi. Namun Trump tidak menjelaskan mengapa eskalasi lanjutan tetap diperlukan di tengah konsekuensi tersebut.

 

Isu Selat Hormuz menjadi contoh lain. Iran menyerang kapal tanker sebagai respons asimetris terhadap serangan udara AS-Israel.

Roth menilai ada opsi diplomatik yang bisa ditempuh.

 

“Menghentikan pemboman sebagai imbalan pembukaan kembali selat adalah solusi yang tersedia,” tulisnya.

Namun opsi tersebut tidak disinggung dalam pidato Trump.

Baca Juga: Korban Serangan Jembatan Iran Bertambah, Delapan Tewas, Hampir 100 Luka

Trump juga membantah bahwa perubahan rezim menjadi tujuan perang, meskipun sebelumnya ia sempat menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan mereka”.

 

Kontradiksi ini semakin memperkuat kritik bahwa strategi Washington tidak konsisten.

 

“Masalah terbesar dalam mencapai kesepakatan mungkin justru Trump sendiri,” tulis Roth.

 

Menurutnya, kebutuhan Trump untuk menampilkan perang ini sebagai kemenangan justru menghambat solusi diplomatik.

 

Ia menilai perang ini telah bergeser dari tujuan militer menjadi destruksi tanpa arah.

“Ini bukan lagi tentang ancaman yang nyata, tetapi penghancuran demi penghancuran,” tegasnya.

Baca Juga: Jembatan Raksasa Iran Runtuh, Trump: Ini Baru Awal

Di akhir analisanya, Roth memberikan penilaian keras.

“Ini adalah pidato seorang pemimpin berbahaya yang tidak mampu menjelaskan alasan penggunaan kekuatan militernya,” tulisnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#iran #trump