LombokPost - Satu awak pesawat tempur Amerika Serikat berhasil diselamatkan setelah jet tempur F-15E ditembak jatuh di wilayah Iran, sementara satu lainnya masih hilang dalam operasi pencarian berisiko tinggi di tengah medan perang aktif.
“Ini adalah perang,” kata Presiden Donald Trump saat dimintai tanggapan singkat, seperti dikutip Sabtu (4/4).
“Tidak ada hubungannya dengan negosiasi.”
Insiden ini menjadi yang ke sekian setelah konflik Iran pecah hampir lima pekan lalu, di mana pesawat tempur AS berhasil dijatuhkan langsung di wilayah Iran.
Pejabat Amerika menyebut satu awak telah berhasil dievakuasi, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Operasi penyelamatan dilakukan dengan cepat untuk mencegah kemungkinan awak pesawat jatuh ke tangan Iran.
Baca Juga: ‘Dunia Semakin Tidak Percaya pada Trump’
Media pemerintah Iran sebelumnya mengklaim telah menembak jatuh pesawat canggih F-35. Namun para analis penerbangan memastikan puing yang ditemukan adalah bagian dari F-15E Strike Eagle milik skuadron ke-494 Angkatan Udara AS yang berbasis di Inggris.
Rekaman yang beredar menunjukkan pesawat penyelamat seperti C-130 Hercules dan helikopter HH-60 Pave Hawk terbang rendah di wilayah barat daya Iran—indikasi kuat adanya misi penyelamatan tempur yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Iran juga bergerak.
Seorang pengusaha Iran bahkan menawarkan hadiah sekitar 60 ribu dolar bagi siapa saja yang berhasil menangkap awak pesawat tersebut hidup-hidup. Media lokal juga menyerukan warga untuk melaporkan keberadaan “pilot musuh”.
Lokasi jatuhnya pesawat diperkirakan berada di sekitar Behbahan, dekat pesisir Teluk Persia.
Baca Juga: Irak di Ambang Kekacauan, Serangan Datang dari Segala Arah
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran menolak proposal gencatan senjata 48 jam dari Amerika Serikat. Hingga kini, tidak ada tanda-tanda konflik akan mereda.
Dalam pernyataan yang menyindir, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengejek situasi tersebut.
“Setelah mengklaim menang puluhan kali, sekarang perang ini berubah menjadi: ‘Ada yang bisa menemukan pilot kami?’” ujarnya.
Insiden ini juga membuka fakta baru: kerugian militer Amerika mulai terlihat nyata.
Sejauh ini, sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka. Selain itu, kerugian material—termasuk pesawat tempur dan drone—diperkirakan telah melampaui 3 miliar dolar.
Baca Juga: Implementasi Kebijakan HKPD Jadi Pemicu PAD Turun
Dalam waktu hampir bersamaan, sebuah pesawat serang A-10 milik AS juga dilaporkan jatuh di kawasan Teluk Persia, meski pilotnya berhasil diselamatkan.
Di tengah situasi ini, Trump tetap mempertahankan sikap agresif. Ia kembali mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran.
“Militer kami bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa,” tulisnya.
“Jembatan berikutnya, lalu pembangkit listrik.”
Ancaman ini memicu kekhawatiran global. Lebih dari 100 pakar hukum internasional memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dapat melanggar hukum humaniter internasional dan berpotensi menjadi kejahatan perang.
Di lapangan, eskalasi terus berlangsung.
Baca Juga: Percepatan Cetak Sawah Baru Butuh Kelengkapan Dokumen Lingkungan
Ledakan dilaporkan mengguncang Teheran utara, sementara Israel melancarkan serangan lanjutan ke Beirut selatan. Sirene peringatan kembali berbunyi di Israel akibat serangan rudal dari Iran dan sekutunya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin