Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dikubur Dua Kali, Duka Warga Lebanon Tak Pernah Selesai

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 4 April 2026 | 22:32 WIB
Seorang anak Lebanon tengah berdoa di makam keluarganya.
Seorang anak Lebanon tengah berdoa di makam keluarganya.

 

LombokPost - Di Lebanon selatan, perang tidak hanya merenggut nyawa—tetapi juga merampas cara terakhir manusia mengucapkan selamat tinggal.

 

Di kota Tyre, tradisi pemakaman yang biasanya penuh penghormatan kini berubah menjadi prosedur darurat. Jenazah tidak lagi diarak melewati kampung halaman, tidak lagi disemayamkan dengan tenang di tanah leluhur.

 

Sebaliknya, mereka dikuburkan sementara—sering kali dalam parit-parit panjang tanpa nama.

 

“Keluarga dipaksa menguburkan orang yang mereka cintai dua kali,” kata Rabih Koubaissi, yang tetap tinggal di Tyre untuk mengurus pemakaman di tengah serangan.

 

Ia menggambarkan kondisi yang jauh dari layak.

Baca Juga: Dari Nuklir ke Minyak, Narasi Perang Trump Berubah Tiap Hari


“Terkadang kami hanya menerima potongan tubuh,” ujarnya.

“Kami kumpulkan apa yang ada, bungkus, lalu kuburkan.”

 

Dalam tradisi Islam, jenazah seharusnya tidak dipindahkan setelah dimakamkan. Namun perang memaksa pengecualian. Jenazah kini dikuburkan sementara dengan metode khusus, menunggu waktu yang tidak pasti untuk dipindahkan ke kampung halaman.

 

“Ini bukan hanya soal pemakaman,” kata Koubaissi.

“Ini soal identitas, soal tempat seseorang berasal.”

 

Namun bahkan harapan itu kini terancam. Pernyataan militer Israel yang berencana mempertahankan wilayah selatan Sungai Litani memicu kekhawatiran bahwa warga tidak akan bisa kembali dalam waktu dekat—bahkan mungkin bertahun-tahun.

 

Baca Juga: 340 Anak Tewas, Perang Ini Jadi Neraka Bagi Generasi Kecil


Pengalaman pahit itu sudah pernah terjadi. Setelah perang sebelumnya, warga yang kembali ke desa mereka menemukan makam telah hancur oleh buldoser, memaksa mereka menguburkan ulang jenazah di tempat lain.

 

Kini, situasi yang sama terulang—bahkan lebih buruk.

 

Di tengah kota yang terus dibombardir, makam-makam sementara berdiri sunyi. Tanpa keluarga, tanpa doa rutin, tanpa kunjungan.

 

Seorang tenaga medis, Hecham Reda, berdiri di depan makam sahabatnya yang tewas dalam serangan.

“Hadi selalu bersama kami,” katanya sambil menangis.

“Serangannya cepat, brutal.”

 

Baca Juga: BBM Naik 42 Persen, Pakistan Gratisin Transportasi Demi Redam Amarah


Ia, seperti banyak warga lainnya, tidak yakin akan pernah bisa membawa sahabatnya pulang.

 

Di sudut lain, sepasang muda-mudi merawat bunga di atas makam dua pemuda. Mereka berdiri lama, saling menguatkan, menatap foto yang tertempel di papan sederhana.

 

Di kejauhan, suara ledakan terus terdengar.

 

Koubaissi tidak lagi menoleh setiap kali bom jatuh.

Yang lebih berat baginya justru pertanyaan dari keluarga korban.

 

“Bagaimana kondisi mereka?”

Baca Juga: Trump Soal Awak Jet Tempur AS Masih Hilang: Ini Adalah Perang!


Ia terdiam.

“Tidak bisa berbohong. Tapi juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.”

 

Perang ini, katanya, belum memberi waktu untuk pulih.

“Kami bahkan belum sembuh dari perang sebelumnya,” ujarnya.

“Sekarang kami sudah berada di perang yang baru.”

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#korban #lebanon #perang