LombokPost – Inggris secara mengejutkan menutup pintu bagi sekutu utamanya, Amerika Serikat, untuk menggunakan pangkalan militer mereka sebagai loncatan serangan terhadap infrastruktur sipil Iran.
Keputusan ini menjadi tamparan keras bagi Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan menghancurkan jembatan hingga pembangkit listrik di Teheran jika ketegangan di Selat Hormuz tak kunjung mereda.
Dikutip dari jawapos.com, laporan harian The i Paper menyebutkan bahwa London hanya akan memberikan izin penggunaan pangkalannya untuk operasi yang bersifat defensif atau bertahan.
Sementara itu, rencana Trump untuk menyasar fasilitas umum milik Iran dianggap tidak masuk dalam kategori serangan defensif.
Baca Juga: Pastikan Gedung Kopdes Merah Putih Bukan di Tanah Sengketa, Harga Produk Relatif Lebih Murah
Nasib Pangkalan Strategis Fairford Inggris menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mengizinkan pesawat pengebom AS mendarat di wilayahnya akan ditentukan secara berbeda berdasarkan kasus per kasus.
Padahal, pangkalan angkatan udara Inggris di Fairford merupakan satu-satunya titik di Eropa yang bisa didarati oleh pesawat pengebom strategis Amerika Serikat.
Pangkalan bersejarah ini sebelumnya pernah menjadi pusat kekuatan udara saat pengeboman Irak dan Yugoslavia.
Ancaman Mengerikan Donald Trump Ketegangan ini bermula saat Trump mengancam akan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya" seluruh fasilitas vital Iran, mulai dari kilang minyak, fasilitas desalinasi, hingga Pulau Kharg, jika kesepakatan damai gagal dan Selat Hormuz tetap diblokade.
Trump bahkan memberikan tenggat waktu hingga 7 April bagi Teheran untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di jalur kunci pasokan minyak dunia tersebut.
Dampak Perang bagi Dunia Konflik ini kian memanas setelah serangan gabungan Amerika dan Israel pada 28 Februari lalu yang memicu jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil Iran.
Teheran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, UEA, hingga Arab Saudi.
Akibat perang terbuka ini, jalur logistik di Selat Hormuz berhenti total, memicu krisis energi global yang membuat harga bahan bakar di berbagai negara melonjak tajam.
Inggris kini memilih menarik diri dari rencana serangan brutal AS guna menghindari kehancuran infrastruktur sipil yang lebih luas.
Editor : Marthadi