LombokPost-Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi dimulai di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4) waktu setempat. Pertemuan tingkat tinggi yang dimediasi oleh Pakistan ini menjadi langkah diplomatik krusial untuk mengakhiri konflik enam pekan terakhir di kawasan Timur Tengah yang saat ini berada dalam status gencatan senjata rapuh.
Delegasi AS dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance yang tiba di Islamabad pada Sabtu pagi. Sementara dari pihak Teheran, rombongan dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran Mohammed Bagher Qalibaf.
Sebelum perundingan utama digelar, kedua perwakilan negara dilaporkan telah mengadakan pertemuan secara terpisah dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Meski demikian, hingga kini belum dapat dipastikan apakah delegasi Washington dan Teheran akan duduk berhadapan dalam satu forum yang sama.
Baca Juga: Ada Keterlibatan Gedung Putih di Balik Inisiatif Pakistan
Upaya diplomasi di ibu kota Pakistan ini bergulir di bawah bayang-bayang eskalasi militer Israel di Lebanon. Pasukan Israel melaporkan telah menggempur lebih dari 200 target yang terafiliasi dengan kelompok bersenjata Hezbollah dukungan Iran dalam tempo 24 jam terakhir. Kondisi tersebut membuat status gencatan senjata semakin rentan dan dipastikan menjadi salah satu pokok perdebatan sengit dalam negosiasi.
Dalam meja perundingan, pihak Iran menyodorkan proposal negosiasi yang berisi 10 poin tuntutan. Syarat utama dari Teheran untuk menyepakati perdamaian permanen adalah penghentian total serangan Israel terhadap Hezbollah.
Tidak hanya itu, Iran turut menuntut pencairan aset beku milik mereka senilai USD 6 miliar, jaminan keberlangsungan program nuklir, serta hak otonom untuk memungut biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi rute perdagangan energi vital di Selat Hormuz.
Di sisi lain, AS membawa agenda yang lebih mengerucut. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa prioritas mutlak Washington dalam konflik ini adalah mencegah Iran agar tidak memiliki kemampuan memproduksi senjata nuklir.
Baca Juga: Iran Izinkan 20 Kapal Tanker Pakistan Melintas di Selat Hormuz
"Tidak ada senjata nuklir. Itu 99 persen dari itu," kata Trump kepada wartawan sesaat sebelum menaiki pesawat Air Force One di Maryland, sebagaimana dikutip dari laporan NPR.
Pernyataan Trump tersebut sekaligus menandai pergeseran fokus diplomasi Washington, yang sebelumnya sempat menargetkan penghancuran kapasitas militer Iran hingga pergantian rezim.
Kini, seluruh mata dunia tertuju pada langkah Islamabad. Ibu kota Pakistan tersebut mendadak menjadi pusat perhatian global setelah sukses menjalankan diplomasi intensif, menyusul keberhasilan mereka sebelumnya dalam memediasi gencatan senjata berdurasi dua minggu antara AS dan Iran.
Editor : Akbar Sirinawa