”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).
Meski demikian, harga sejumlah barang relatif normal. Hal itu, kata dia, karena NTB penghasil komoditas tertentu, seperti cabai dan tomat. Sehingga persediaan mencukupi dan tidak perlu mendatangkannya dari luar. ”Karenanya penurunan omzet tak berpengaruh signifikan terhadap fluktuasi harga,” ujarnya.
Menurutnya, pasar tradisional berperan penting untuk perekonomian daerah. Sehingga harus tetap dibuka saat pandemi. Asalkan penerapan protokol kesehatan dilakukan secara tertib dan disiplin. Pihaknya juga rutin melakukan razia, sidak, hingga rapid tes. Memastikan pedagang teredukasi untuk selalu menaati peraturan. ”Alhamdulillah sejauh ini tidak terjadi klaster baru dari pasar tradisonal,” imbuhnya.
Siti Zahra, pedagang ikan nila di Pasar Kebon Roek juga mengeluhkan daya beli masyarakat yang terus berkurang. Padahal, pasokan barang tetap normal. Kurangnya permintaan dari sejumlah hotel dan restoran juga mempengaruhi pendapatannya. Ia pun memilih menyesuaikan jumlah barang yang dijual.”Ikannya biasa diborong hotel Senggigi, Gili, dan yang sejalur. Kalau sekarang hanya andalkan ibu rumah tangga tapi jumlah belinya beda jauh,” katanya.
Dulu, wanita asal Lingsar ini biasa menjual 100 kilogram ikan nila dalam sehari. Kini hanya sedia 40-50 kilogram saja. Harga yang dipatok Rp 30.000 per kilogam. ”Itupun kadang habis kadang ndak,” imbuhnya.
Menurutnya, hal ini rata dialami seluruh pedagang di Pasar Kebon Roek. Ekonomi pun dirasa makin sulit setelah suaminya di-PHK dari tempat kerjanya. ”Sekarang dia menganggur. Sekarang hanya andalkan jualan pasar saja,” katanya.
Mencegah penurunan omzet semakin dalam, Dinas Perdagangan mengimbau para pedagang mencoba peruntungan bertransaksi online dengan sistem kurir. Pasar Bertais, dianggap menjadi percontohan penerapannya. Di sini, banyak pedagang yang sudah bekerjasama dengan pihak pemilik aplikasi jual beli kebutuhan pasar. ”Perlahan mereka sudah mulai beradaptasi,” kata Fathurrahman.
Tak hanya pasar tradisional, Dinas Perdagangan Provinsi NTB juga berupaya menggairahkan ekonomi dengan membangkitkan UMKM. Memberikan akses pasar dengan kerjasama di sejumlah pasar online. Termasuk melalui NTB Mall dengan konsep online dan display secara offline. Ada pula Lades (Lapak Desa). Salah satu fungsinya, memasarkan hasil potensi masing-masing desa untuk saling memenuhi kebutuhan satu sama lainnya. ”Mereka sebelumnya akan diberi pelatihan. Semoga makin banyak IKM dan UKM lokal yang bergeser ke digital marketing,” tutupnya. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida