"Sudah sejak beberapa hari lalu harga kedelai naik. Yang semula Rp 700 ribu per kuintal naik menjadi Rp 900 ribu bahkan tembus Rp 1 juta 30 ribu," tutur Musrah pengusaha tahu tempe di Kelurahan Kekalik Jaya kepada Lombok Post, Senin (4/1/21).
Ia tak tahu pasti alasan naiknya harga kedelai. Hanya saja, kondisi ini sudah terjadi beberapa minggu lalu. Ditunggu beberapa pekan, harga kedelai tak kunjung turun. "Kalau dibuat ukuran lebih kecil, nanti nggak laku. Kita naikkan harga di pasar, nggak ada yang mau beli. Serba sulit jadinya," timpal Musleh pembuat tahu tempe lainnya yang ada di Kelurahan Kekalik Jaya.
Harga tahu tempe di pasar sulit berubah. Harganya harus stabil. Jika tidak demikian, tak ada warga yang mau beli. Sementara jika biaya produksi naik, hal ini tentu membuat pengusaha tahu tempe merugi.
"Makanya kalau harganya tetap naik nggak bisa turun, ya kami rugi. Bisa-bisa usaha kami tutup," ujar Musrah.
Kondisi yang dihadapi para pengusaha tahu tempe semenjak pandemi Covid-19 cukup berat. Omzet mereka terganggu karena daya beli masyrakat yang menurun. Jika ditambah dengan harga kedelai yang meroket, pengusaha tahu tempe sudah tak tahu harus berkata apa.
"Untung saja masih ada stok kedelai yang lama. Kami berharap harga kedelai bisa turun. Kalau nggak gitu, kami yang tutup," ucap Musrah dan Musleh kompak.
Mereka menuturkan di beberapa tempat seperti di Pulau Jawa, pengusaha tahu tempe sudah menggelar aksi unjuk rasa. Namun di Kota Mataram, pengusaha masih berharap pemerintah mengambil tindakan atau kebijakan untuk mengendalikan harga kedelai.
Mengingat usaha tahu tempe adalah satu-satunya usaha yang bisa dijalankan sebagian besar warga Kekalik Jaya. "Saya sudah 30 tahun menjalankan usaha ini. Kalau ini nggak jalan, kami mau kerja apa?" tanyanya. (ton/r3)
Editor : Administrator