Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB H Abdul Azis mengatakan, pihaknya memiliki tim yang melakukan pengecekan harga bahan pokok strategis di tiap kabupaten/kota. Berbicara standar harga yang dikeluarkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di kisaran Rp 6.100 hingga Rp 6.300 per kilogram. ”Rp 6.100 itu di tingkat petani, Rp 6.200 pedagang, dan Rp 6.300 di Bulog,” ujarnya.
Kenyataan di lapangan saat ini, harga gabah siap giling ini sudah di angka Rp 7.000 hingga Rp 7.300 per kilogram. Kenaikan ini diduga lantaran kondisi cuaca saat ini. Harga gabah yang naik ini diakui Azis terjadi di semua kabupaten/kota di NTB.
Kenaikan harga gabah bersifat relatif. Bisa juga dikarenakan musim paceklik, yang membuat harga bahan baku ikut naik. Sehingga berlakulah hukum ekonomi di sana. Salah satunya, kenaikan harga beras di pasar-pasar.
Menanggulangi persoalan kenaikan harga pangan, pihaknya tengah menggalakkan gerakan pangan murah (GPM). Seperti melakukan bazar atau pasar murah berbagai komoditas pangan. ”Di nomenklaturnya itu adalah GPM, jadi kita menggunakan itu,” bebernya.
Sementara di Bulog kata Azis, penanggulangan kenaikan harga melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Tidak hanya di masyarakat umum, gerakan ini juga dipusatkan di masyarakat rentan rawan pangan. ”Seperti di Dasan Agung, nanti juga kami akan coba di Karang Pule dan Pagutan,” bebernya.
GPM ini juga dilaksanakan di Dinas Ketahanan Pangan NTB. Dirinya berharap masyarakat sekitar bisa berbelanja di sana. Terkait anggaran, untuk GPM di seluruh kabupaten/kota NTB, diakui Azis berasal dari Bapanas. ”Memang secara fungsional kami, walau pun secara struktural di bawah pemda, tetapi secara fungsional dengan Bappenas tetap kami koordinasi,” tandasnya.
Sebelumnya, Bulog NTB menggelontorkan 20 ton beras kualitas medium di 20 pengecer Pasar Kebon Roek, Selasa (5/6). Hal ini dilakukan untuk menstabilkan harga beras yang mengalami kenaikan.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB David Susanto mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pengecer beras di setiap pasar di NTB. Hal itu bertujuan untuk menekan gejolak sekaligus menstabilkan harga beras di pasar. ”Kami melaksanakan pemantauan harga beras dan sebab kenaikannya di Pasar Kebon Roek,” ujar David. (fer/r9)
Editor : Redaksi Lombok Post