Pada Mei 2025, NTB tercatat mengalami deflasi sebesar minus 0,58 persen.
Deflasi yang terjadi di NTB ini disebabkan adanya penurunan harga komoditas pertanian, lantaran pada beberapa daerah masih mengalami musim panen.
Beberapa komoditas yang melimpah di antaranya seperti cabai rawit, bawang merah, dan beras, yang produksinya melimpah di pasaran.
Sementara secara kalender tahunan, inflasi NTB berada di angka 1,63 persen, sedikit di atas nasional sebesar 1,60 persen.
“Insya Allah kalau tidak terlalu bergejolak angka inflasi kita masuk dalam rentang 2,5 plus minus 1 persen,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin, Senin (6/2).
Baca Juga: Bukan Kaleng-Kaleng, Kopi Asal KLU Siap Kuasai Pasar Internasional
Dijelaskannya, penyebab deflasi bulanan di NTB disumbang kelompok pengeluaran pada kelompok makanan, minuman dan tembakau.
Pada kelompok ini terjadi di deflasi minus 1,77 persen dengan andil minus 0,65 persen terhadap total deflasi di 0,58 persen.
Meski deflasi, namun ada kelompok yang mengalami inflasi.
Di antaranya, kelompok pendidikan 0,56 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,36 persen dan kelompok kesehatan 0,16 persen.
“Tiga kelompok itu yang memengaruhi kita inflasi, tetapi tidak bisa menutup angka deflasi yang dialami kelompok makanan, minuman dan tembakau,” jelasnya.
Jika dilihat dari komoditas, kelompok menyumbangkan andil deflasi bulanan di antaranya, cabai rawit 0,37 persen.
Kemudian bawang merah 0,17 persen, cabai merah 0,07 persen, beras 0,05 persen, dan jeruk 0,03 persen.
Sedangkan kelompok menyumbangkan andil inflasi bulanan di antaranya, daging ayam 0,07 persen, tomat 0,05 persen, kacang panjang 0,04 persen, emas perhiasan 0,03 persen, dan bimbingan belajar 0,02 persen.
“Kita hanya ambil 5 besar komoditas barang dan jasa yang mengalami kenaikan harga,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam