LombokPost – Fornas 2025 membawa angin segar bagi sektor perhotelan.
Di Kota Mataram, perputaran uang dari sektor akomodasi selama perhelatan ini diperkirakan mencapai Rp 20 miliar.
Puluhan miliar ini berasal dari okupansi hotel saja, belum termasuk transportasi, kuiner, hingga oleh-oleh.
“Rp 20 miliar dengan asumsi kegiatan dari tanggal 25 Juli sampai tanggal 1 Agustus,” ujar Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) I Made Adiyasa Kurniawan.
Dijelaskannya, Kota Mataram memiliki sekitar 7.000 kamar hotel.
Baik dari kelas melati hingga berbintang.
Jika dihitung dengan tarif rata-rata paling rendah sebesar Rp 500 ribu per malam.
Maka potensi pendapatan dari hotel bisa menyentuh Rp 3,5 miliar per hari.
“Ya kira-kira segitu lah per hari dari hotel ya, padahal hotel itu ada yang sampai satu jutaan harga kamarnya,” sambungnya.
Dengan asumsi peserta menginap selama lima malam, maka total perputaran uang dari sektor hotel saja dapat menyentuh angka Rp 17,5-20 miliar.
Jumlah ini belum termasuk perputaran ekonomi dari sektor lain seperti transportasi, kuliner, hingga oleh-oleh.
Fornas 2025 di NTB tercatat dihadiri 18 ribu peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
Para peserta datang dalam waktu yang berbeda-beda.
Ada yang hadir sejak pembukaan di tanggal 25 Juli, ada yang datang di pertengahan, ada pula yang baru tiba menjelang penutupan.
Ini menyebabkan dinamika hunian hotel berlangsung stabil selama sepekan penuh.
“Kebetulan yang di tempat saya itu datang tanggal 25, jadi tanggal 30 sudah pada check out. Yang campur lombanya duluan ikut pembukaan, sedangkan yang lain ikut penutupan,” jelasnya.
Meski data konkret dari sektor lain belum tersedia, namun diyakini nilai perputaran uang bisa jauh lebih tinggi jika seluruh sektor ekonomi dihitung.
Dengan capaian ini, pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat terus mendorong kehadiran kegiatan serupa.
Hal itu dinilai bisa menjadi strategi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi daerah berbasis pariwisata dan event nasional. (fer/r6)
Editor : Prihadi Zoldic