Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ekonom UGM Ungkap Hal Yang Harus Diwaspadai di Balik Strategi Rp200 Triliun Menkeu Purbaya

Nurul Hidayati • Sabtu, 13 September 2025 | 20:14 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menarik dana sebesar Rp200 triliun dari bank sentral untuk disalurkan ke bank-bank komersial menuai sorotan tajam.

Meski kebijakan ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, ekonom senior UGM, Denni Puspa Purbasari, Ph.D., memperingatkan adanya risiko besar bagi stabilitas Rupiah.

Menurut Denni, kebijakan ini fokus pada keseimbangan internal yaitu mencapai pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja dengan cara menambah likuiditas di pasar.

Namun, ia menekankan langkah ini bisa menjadi bumerang.

"Ketika likuiditas meningkat dan suku bunga menurun, investor bisa menilai Indonesia tidak lagi menarik," ujar Denni.

"Akibatnya, dana mereka berpotensi dialihkan ke luar negeri. Apabila kondisi ini terjadi, kurs Rupiah akan terdepresiasi, yakni melemah terhadap mata uang asing," katanya.

Denni menjelaskan kebijakan ekonomi seharusnya mengejar dua tujuan utama: keseimbangan internal (ditandai dengan stabilitas makro dan full employment) dan keseimbangan eksternal (stabilitas neraca transaksi berjalan dan aliran modal).

Namun, kedua tujuan ini sering kali bertentangan.

"Kebijakan yang ditujukan untuk mencapai stabilitas internal, di sisi lain, berdampak negatif terhadap stabilitas eksternal. Atau sebaliknya," tambahnya.

Dalam konteks ini, Denni mengingatkan Menkeu Purbaya untuk berhati-hati. Investor bersifat rasional; mereka akan selalu mengalirkan modal ke tempat yang menawarkan imbal hasil (returns) tertinggi dengan risiko yang sama.

"Agar depresiasi yang terjadi tidak terlalu drastis yang menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan tidak lagi dapat dibiayai," tegasnya.

Peringatan Denni diperkuat oleh data Bank Indonesia. Hingga semester I 2025, neraca transaksi berjalan mencatat defisit sebesar 3,2 miliar dolar, dan yang lebih mengkhawatirkan, neraca finansial juga defisit 5,6 miliar dolar.

Kondisi ini sangat berbeda dengan tahun 2024, di mana defisit transaksi berjalan masih bisa ditutup oleh surplus neraca finansial, meskipun tipis.

Pemicu utama defisit neraca finansial adalah keluarnya investasi portofolio senilai 8 miliar dolar, yang tidak mampu diimbangi oleh masuknya foreign direct investment (FDI) yang hanya mencapai 5 miliar dolar.

"Investasi portofolio sangat dipengaruhi oleh sentimen investor," kata Denni.

Ekonom UGM Ungkap Hal Yang Harus Diwaspadai di Balik Strategi Rp200 Triliun Menkeu Purbaya
Ekonom UGM Ungkap Hal Yang Harus Diwaspadai di Balik Strategi Rp200 Triliun Menkeu Purbaya

Meskipun Rupiah hanya terdepresiasi tipis terhadap dolar AS, pergerakannya terhadap mata uang lain seperti Euro (-14,42 persen), Dolar Australia (-8,68 persen), Dolar Singapura (-8,17 persen), dan Yuan (-4,62%) menunjukkan sinyal pelemahan yang nyata.

Ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pertumbuhan internal, tetapi juga menjaga kepercayaan investor demi stabilitas nilai tukar.

Editor : Pujo Nugroho
#investasi #menkeu #ugm #pertumbuhan #Likuiditas #Purbaya #stabilitas #Ekonomi