LombokPost – Kreasi dan semangat berinovasi warga Desa Batu Kumbung, Lingsar, Lombok Barat dengan produk abon lele patut diacungi jempol.
Abon lele dengan merek Minapolitan Lingsar, hasil binaan UMKM setempat, kini menjadi primadona yang tidak tak hanya menjanjikan gizi tinggi, abon lele juga membangkitkan ekonomi warga.
Pembina UMKM Minapolitan Lingsar Zainudin menjelaskan, ide produk ini lahir dari keprihatinan saat Covid-19 melanda. Para pembudidaya kesulitan menjual hasil panen lele yang pertumbuhannya pesat.
“Makannya rakus, dikasih makan terus, begitu besar, tidak bisa kita jual karena kalau terlalu besar agak ngeri (harganya. Akhirnya kami terus mencari inovasi, menemukan satu produk namanya abon lele,”tutur Zainudin.
Pembuatan abon lele ini beberapa kali kegagalan. Terutama soal masa kedaluwarsa yang awalnya hanya satu bulan. Kini produk abon lele mereka berhasil bertahan hingga satu tahun berkat pengeringan sempurna tanpa bahan pengawet.
Zainudin mengungkapkan, lele yang digunakan adalah lele jumbo. Abon lele ini memiliki kandungan protein dan gizi yang sangat tinggi. Bahkan sedikit di bawah ikan gabus, sehingga menjadikannya sangat ideal untuk program peningkatan gizi.
“Ini bagus sekali untuk stunting, karena gizinya sangat tinggi, proteinnya tinggi,” tegasnya.
Hal ini terbukti dengan adanya pesanan besar dari desa untuk kebutuhan program stunting. Bahkan hingga mencapai 80 kilogram lele untuk sekali produksi.
Selain itu, produk mereka sebelumnya pernah dipakai oleh UNICEF di kawasan Kunjungan Kerja (Kunker) untuk anak-anak.
Abon lele Minapolitan Lingsar ini diproduksi secara berkelanjutan (zero waste). Membuka lapangan kerja bagi puluhan ibu-ibu di sekitar. Abon dibuat 100 persen dari daging lele dan dijual Rp 50.000 per 200 gram.
Tak hanya dagingnya, UMKM Minapolitan Lingsar juga mengolah kulitnya menjadi kerupuk. Kerupuk dibuat dari kulit lele jumbo, minimal 2-2,5 kilogram dan dijual Rp 10.000 per bungkus.
Kemudian ada gulai yang dibuat dari sisa potongan, termasuk kepala. Namun produk ini tidak dijual, melainkan dibagikan gratis kepada ibu-ibu yang membantu proses produksi.
“Karena gulai hanya tahan satu kali saji,” sambungnya..
Soal produksi, Zainudin mengatakan, mereka mampu mengolah hingga 50 kilogram lele. Bahkan bisa mencapai 80 kilogram ketika banjir pesanan.
Jangkauan pemasaran produk abon lele Minapolitan Lingsar pun sudah luas. Ada pesanan berkala dari luar negeri seperti Malaysia.
Meski telah sukses menembus pasar luar negeri, Minapolitan Lingsar berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda). Mereka menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan Lombok Barat untuk program stunting.
Zainudin berharap pemerintah kabupaten/kota lain dapat memberikan perhatian lebih kepada UMKM.
“UMKM ini hanya sandarannya adalah pemerintah dan masyarakat sini. Kalau betul-betul diperhatikan dari pemerintah, nggak akan takut untuk sama,”tandasnya.
Baca Juga: Korupsi Iklan BJB, KPK Buka Peluang Tetapkan Tersangka Baru
Editor : Marthadi