Pemilik gerai perhiasan emas H Fauzi menuturkan, kenaikan harga yang tak terkendali ini memaksa konsumen menahan diri.
Masyarakat kini lebih memilih memprioritaskan kebutuhan pokok ketimbang membeli perhiasan yang bersifat konsumtif.
“Pergerakan harga terus mendaki. Dampaknya, daya beli produk berbahan emas menurun drastis. Di pasar dan toko-toko emas, transaksi sekarang terasa jauh lebih sepi,” beber Ketua Asosiasi Mutiara NTB ini.
Secara nominal, kenaikan harga emas memang mendongkrak nilai aset yang dimiliki para pedagang.
Namun, Fauzi menegaskan kondisi ini tidak lantas membawa keuntungan. Pedagang sepertinya justru lebih merindukan pasar yang stabil dengan perputaran barang yang cepat.
“Kalau jual beli macet, ekonomi tidak bergerak. Kami inginnya harga terjangkau, seperti dulu di kisaran Rp 1 juta per gram,” terangnya.
Fauzi memberikan gambaran nyata mengenai penurunan kemampuan beli ini. Jika beberapa waktu lalu dana Rp 5 juta sudah bisa membawa pulang kalung atau gelang, kini nominal yang sama hanya cukup untuk menebus satu cincin kecil.
Hal inilah yang membuat masyarakat berpikir berulang kali sebelum bertransaksi.
Fenomena ini, menurut Fauzi, dipicu oleh pergeseran pola pikir masyarakat global. Emas kini tidak lagi dipandang sekadar perhiasan.
Melainkan instrumen investasi utama yang dianggap paling aman. Ketegangan geopolitik dunia memicu kelangkaan pasokan karena negara-negara besar terus berburu emas.
“Di seluruh dunia orang berburu emas, pasokan terbatas, otomatis harga naik,” imbuhnya.
Fauzi mengutip prediksi sejumlah ekonom yang menyebut harga emas berpotensi menembus angka Rp 4 juta per gram di masa depan.
Kenaikan emas turut menyeret harga perak ke level yang tidak masuk akal. Per 1 gram perak yang dulu hanya Rp 15 ribu, kini melesat hampir ke angka Rp 40 ribu.
Kondisi ini menjadi pukulan ganda bagi para pengrajin perhiasan di NTB. “Order emas sepi, perajin sempat beralih ke perak. Tapi sekarang perak juga mahal. Akhirnya sama-sama lesu,” keluh Fauzi.
Tren masyarakat yang cenderung menimbun emas sebagai aset mati berpotensi menahan perputaran uang di tengah masyarakat.
“Ini yang harus menjadi perhatian kita bersama,” tandasnya.
Ketua Asosiasi Masyarakat Pedagang Emas Sekarbela (Ampera) Iskandar menyebut, tren kenaikan harga emas merupakan refleksi dari perubahan cara berpikir masyarakat dan negara dalam melindungi aset.
Emas dinilai tetap menjadi instrumen investasi paling aman dibandingkan aset lain, seperti saham maupun kripto.
Emas memiliki keunggulan karena dapat dikuasai secara fisik dan memiliki acuan harga global yang transparan.
“Emas itu aset paling aman. Kalau saham atau kripto, itu sistemnya bisa terganggu. Kalau emas, kita pegang barangnya langsung,” kata Iskandar.
“Emas itu cadangan negara. Ketika ada gejolak global, negara-negara akan mengamankan asetnya ke emas. Itu yang membuat harganya terus terdorong naik,” pungkasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post