LombokPost – Bukan lagi jagung, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima mempromosikan komoditas kopi sebagai tambang emas baru.
Potensi ekonomi dari komoditas ini diyakini akan mampu mendongkrak drastis taraf hidup masyarakat tani di Bumi Maja Labo Dahu.
Wakil Bupati Bima Irfan Zubaidy menjelaskan analisis ekonomi yang cukup kontras antara dua komoditas kopi dan jagung tersebut.
Berdasarkan perhitungan di lapangan, ketergantungan pada tanaman jagung selama ini dinilai belum memberikan lompatan ekonomi yang signifikan bagi petani.
“Jika menanam jagung, keuntungan bersih petani per hektarenya hanya berkisar di angka Rp 12-15 juta dalam satu musim tanam. Ini sangat jauh jika kita bandingkan dengan potensi kopi,” jelasnya.
Secara matematis, Irfan merinci keunggulan nilai ekonomi kopi. Dengan estimasi hasil panen minimal 2 ton per hektare dan harga pasar yang saat ini menyentuh Rp 65 ribu per kilogram, seorang petani kopi bisa mengamankan pendapatan kotor sekitar Rp 130-135 juta per tahun.
“Selisih pendapatannya mencapai sembilan kali lipat. Ini adalah peluang besar yang harus mulai dipikirkan oleh petani kita. Kita tidak bisa terus mengandalkan jagung jika ingin ke luar dari jerat kemiskinan,” tegas politisi PKS tersebut.
Selain keuntungan finansial yang berlipat ganda, strategi substitusi ini juga menjadi jawaban atas ancaman kerugian materil akibat bencana banjir.
Selama ini, pola tanam jagung di lahan miring memicu erosi hebat yang mengakibatkan banjir mingguan di Bima.
Kerugian akibat banjir yang merusak fasilitas umum dan permukiman dinilai sangat membebani ekonomi daerah.
Sebaliknya, kopi sebagai tanaman tegakan tahunan berperan ganda. Yakni sebagai mesin uang sekaligus pelindung ekosistem.
Kata dia, kopi adalah investasi jangka panjang. Pohonnya menjaga air dan tanah, sementara bijinya memberikan nilai ekonomi tinggi secara berkelanjutan.
“Kami sudah kumpulkan para kades, camat, hingga kelompok tani di Tambora untuk memberikan pemahaman ini,” sambungnya.
Menyadari transisi tanaman memerlukan waktu dan edukasi, Pemkab Bima berkomitmen tidak akan melepas petani begitu saja.
Pendampingan mulai dari pembibitan, teknik budi daya, hingga akses pasar akan menjadi prioritas.
“Pemerintah akan hadir untuk mendampingi proses substitusi ini. Kita ingin menciptakan pola ekonomi di mana petani tetap kaya, namun alam tetap terjaga. Ini adalah visi besar untuk masa depan Bima yang lebih makmur,” pungkasnya.
Editor : Prihadi Zoldic