Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cabai Rawit dan Emas Bikin Inflasi NTB Lampaui Target Rentang Nasional

Geumerie Ayu • Selasa, 3 Maret 2026 | 16:20 WIB

 

PENYEBAB INFLASI: Penjual cabai rawit di Pasar Mandalika, Mataram.
PENYEBAB INFLASI: Penjual cabai rawit di Pasar Mandalika, Mataram.
LombokPost – Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menunjukkan angka inflasi bulanan berada di posisi 0,84 persen.

Angka ini secara signifikan melampaui inflasi nasional yang berada di kisaran 0,68 persen.

Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan, tren inflasi NTB sejak awal tahun menunjukkan eskalasi yang perlu diwaspadai.

Inflasi year-to-date (ytd) tercatat 1,12 persen, jauh di atas angka nasional 0,57 persen.

Bahkan, secara tahunan (yoy), inflasi NTB menyentuh angka 5,37 persen, tertinggi sepanjang satu tahun terakhir.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika konsumsi masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,52 persen," ujar Wahyudin, Senin (2/3).

Terdapat lima komoditas utama yang mendongkrak inflasi di NTB. Posisi puncak ditempati cabai rawit.

"Harganya sempat melonjak drastis hingga mencapai Rp 150 ribu per kilogram," ungkapnya.

Faktor eksternal juga turut ambil bagian. Harga emas perhiasan yang terus merangkak naik dipicu perang di Timur Tengah dan kebijakan Amerika Serikat yang mengguncang harga emas dunia.

Selain dua komoditas tersebut, kenaikan harga udang basah, daging ayam ras, serta tarif angkutan udara juga menjadi penyumbang inflasi yang signifikan.

Khusus untuk angkutan udara, kenaikan terjadi pasca berakhirnya masa subsidi atau normalisasi harga setelah libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Baca Juga: 3 Alasan Kuat Drakor ‘Siren’s Kiss’ Park Min Young dan Wi Ha Joon Wajib Ditonton

Dalam hitungan BPS, secara bulanan Kota Mataram mencatatkan inflasi tertinggi yakni 0,96 persen.

Disusul Kota Bima 0,91 persen, dan Sumbawa 0,67 persen. Namun, secara tahunan, Kota Bima memegang predikat inflasi tertinggi dengan angka 6,40 persen.

Diiikuti Kota Mataram 5,49 persen, dan Sumbawa 4,88 persen.

"Dinamika ekonomi di Mataram lebih kompleks dengan pola konsumsi masyarakat yang fluktuatif, ibarat pola gergaji, naik turun dengan cepat," jelasnya.

Menanggapi inflasi yang berada di atas target rentang nasional (2,5 persen plus minus 1 persen), BPS mendorong pemerintah daerah untuk melakukan intervensi tepat sasaran. Terutama pada komoditas pangan.

Editor : Kimda Farida
#Inflasi Februari 2026 #EMAS #Cabai Rawit #Lonjakan Inflasi #BPS NTB