BERKUALITAS TINGGI: Bean kopi Arabika yang diproduksi oleh CV Sapit Farm Mandiri milik Agus Patrawijaya. (IST/LOMBOK POST)LombokPost - DESA Sapit di Kecamatan Suela kini tak hanya dikenal dengan panorama sawah teraseringnya yang memukau.
Di tangan Agus Patrawijaya, desa di kaki Gunung Rinjani ini mulai bersinar sebagai produsen kopi arabika berkualitas tinggi.
Melalui CV Sapit Farm Mandiri, Agus mempelopori budi daya kopi arabika di lahan dataran tinggi.
Baca Juga: Festival Kopi di LEM Pecahkan Rekor, Transaksi Tembus Rp2 Miliar dalam 4 Hari
Keputusannya berpijak pada analisis agronomis yang matang. Desa Sapit memiliki ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Ini syarat mutlak agar kopi arabika tumbuh optimal dan terhindar dari penyakit karat daun.
Berbekal disiplin ilmu pertanian, Agus memulai langkahnya dari hal yang paling mendasar, pembibitan mandiri.
Baca Juga: O’Royal Coffee Buktikan Kopi Rumahan Kini Bisa Naik Kelas
Di halaman rumahnya, ia menyemai bibit di atas bedengan kayu selebar 2x4 meter dengan komposisi media tanam yang presisi.
Yakni perpaduan tanah, sekam, dan pupuk organik.
“Di sinilah bibit kopi arabika Sapit bermula. Bibit ini dirawat dengan saksama sebelum siap dipindahkan ke lahan terbuka pada usia 5-6 bulan,” jelas Agus.
Ketelatenannya membuahkan hasil. Pada usia dua tahun, pohon kopi miliknya mulai memproduksi biji kopi. Keberhasilan ini siap jadi kekuatan baru menyusul kesuksesan budi daya kopi di Desa Sajang, Sembalun dan Desa Beririri Jarak, Wanasaba.
Budi daya kopi di Desa Sapit kini telah naik kelas dari sekadar pertanian tradisional menjadi industri kecil menengah (IKM) yang didukung teknologi.
Berkat bantuan mesin sangrai (roaster) dari pemerintah, CV Sapit Farm Mandiri mampu menghasilkan produk kopi dengan tingkat kematangan yang konsisten. "Untuk satu kilogram kopi, diperlukan waktu sekitar 12 menit di atas tungku bersuhu 120 derajat celcius. Proses ini krusial untuk mengeluarkan cita rasa terbaik arabika," jelasnya.
Pada 2023 lalu, dia mampu memproduksi hingga 1.200 kilogram bean arabika. Kopi itu ditanamnya di lahan seluas satu hektare.
Agus tidak hanya berperan sebagai petani dan produsen, tetapi juga sebagai edukator bagi warga Sapit. Sentuhan manajemen profesional melalui CV Sapit Farm Mandiri memberikan harapan baru bagi peningkatan pendapatan masyarakat. (fer/r6)
Editor : Redaksi